Penyintas di Reruntuhan Warsawa
Film dengam mengangkat kisah genosida pada perang dunia ke-2 dengan korban para kaum yahudi telah banyal difilmkan. Namun, untuk yang berhasil dipuji oleh kritikus dan juga secara akurat sejarah tidak begitu banyak.
Film The Pianist garapan Roman Polanski ini dianggap satu dari film sejarah yang masuk deretan papan atas yang berkualitas dan secara sejarah memang digambarkan cukup akurat.
Berkisah Wladyslaw Szpillman seorang keturunan Yahudi yang secara turun-temurun bersama keluarganya menjadi warga negara di Polandia. Ketika perang meletus, Nazi melakukan invasi ke Polandia, maka keluarga Szpillman mendapatkan dampak dari pembersihan etnis Yahudi oleh Nazi.
Szpillman yang berprofesi menjadi musisi pianis sebelumnya musti menempati Gettho (sebutan penghuni yahudi yang dikumpulkan Nazi sebelum menuju kamp konsentrasi)
Takdir berkata lain. Szpillman bertahan dalam ghetto dan selanjutnya berusaha bertahan hidup dengan upaya melarikan diri hingga musti dibantu oleh orang-orang berani yang menyayanginya. Sementara keluarganya musti mengalami takdir untuk dibawa ke kamp konsentrasi yang merupakan kamp kematian.
Roman Polanski tidak sedang membuat film aksi perang dengan latar perang dunia ke-2 yang disukai penonton film perang. Namun sang sutradara sedang membuat film untuk menggambarkan seorang yang bertahan hidup ketika dunia kehilangan kemanusiaannya.
Nilai lebih lainnya dari film ini dalam mengangkat kisah Szpillman adalah bagaimana kejahatan tidak selalu tampil dalam bentuk monster. Tapi sering hadir sebagai sistem, aturan, dan rutinitas yang pelan-pelan menghapus martabat manusia. Namun di tengah kehancuran itu, film ini juga menunjukkan bahwa kebaikan kecil, satu orang yang membantu, satu lagu yang dimainkan, bisa menjadi penopang hidup seseorang.
The Pianist adalah film tentang perang tanpa heroisme. Mengisahkan genosida tanpa eksploitasi. Bicara tentang harapan yang tidak bersinar terang, tapi cukup untuk membuat seseorang bertahan dan menjadi saksi ketika kejahatan genosida terjadi.
SKOR: 8/10
Ulasan film: Jonathan Ricky