Debut Reza yang Gemilang Sebagai Sutradara
Sartika yang hamil dan tanpa suami, memilih meninggalkan tempat asalnya. Dirinya sampai pada suatu tempat di pantura, yang menjadi tempat berhenti para supir beristirahat. Singkat cerita, kehidupan Sartika menjadi pelayan kopi dengan pelayanan pangku bagi para supir.
Pertemuan Sartika dengan Hadi seorang supir memberikan harapan pada dirinya. Bahwa orang miskin serba kekurangan berhak bermimpi untuk bahagia bersama anaknya. Meski realita kehidupan juga tidak seindah apa yang ingin diraih Sartika.
Debut penyutradaraan Reza Rahadian sepertinya berjalan sukses. Reza mampu menghadirkan kehidupan marjinal era 90-an yang sebenarnya masih terjadi hingga saat ini. Potret kemiskinan di Jawa yang harusnya lebih maju, digambarkan gamblang tanpa penuh basa-basi dalam setiap gambar.
Pacing yang berjalan lamban justru menjadi kelebihan film ini. Pacing lamban tak membuat film ini jadi membosankan. Justru seakan menampar penonton akan realita kehidupan rakyat marjinal yang berjuang untuk hidup.
Pesan perjuangan seorang ibu tersaji begitu menohok. Dalam film ini, kita terdiam melihat bagaimana Sartika akan mengorbankan segalanya untuk kebahagiaan sang anak. Dari menginginkan anaknya bisa sekolah hingga mencari sosok ayah buat sang anak.
Fokus pada kehidupan Sartika memberikan pesan memihak pada martabat perempuan meski terpinggirkan oleh kehidupan sosial. Lebih menampar lagi adalah penggambaran kehidupan marjinal yang terpinggirkan.
Film ini tidak menggurui penguasa untuk berkata memberikan kehidupan lebih baik kepada rakyatnya. Namun, film ini memberikan pesan bahwa rakyat juga berhak hidup lebih baik.
Secara keseluruhan, Film ini hadir dengan sederhana, hangat, indah apa adanya untuk sebuah karya film. Reza Rahadian menetapkan standar yang tinggi untuk film Indonesia modern.
Review oleh: John Tirayoh
#pangku #filmpangku #rezarahadian #clarestataufan #fedinurul #christinehakim