The Raid Versi Tentara
Jejak Iko Uwais di sinema Indonesia dimulai lewat Merantau(2009). Skill bela dirinya sungguh menyita perhatian, namanya pun lekat dengan adegan laga dan silat. Bahkan mengantarnya menembus pentas dunia. Kini, dia mencoba menjadi dalang lewat proyek perdananya, Timur, sekaligus tampil sebagai pemain.
Kesan pertama Timur mengingatkan pada film-film propaganda produksi PPFN di era Orde Baru. Sama-sama terinspirasi dari kisah nyata tokoh nomor wahid yang sedang berkuasa. Bedanya, kali ini digagas oleh pihak swasta, dengan kemasan full action, dan menghadirkan aktor impersonatornya.
Dalam perkara film laga, nama Iko Uwais sejak lama menjadi semacam garansi. Ingat Iko, ingat film berantem. Apalagi ia kerap terlibat langsung sebagai koreografer. Tak heran jika dalam Timur ia kembali tampil dominan, yes, privilege yang identik dengan aktor utama sebagai pimpinan tim pembebasan sandera.
Kerja Iko dibantu dari skenario Titien Wattimena yang mencoba mengulik isu bromance ala Mengejar Matahari, sekaligus membangun aroma thriller balada tentara. Sayangnya eksekusinya terkesan datar. Iko lebih menikmati menggarap adegan laga yang melibatkan para prajurit.
Sebagai debut sutradara, wajar jika proyek ini belum bisa dinikmati dengan mulus. Apalagi, Iko juga berperan sebagai aktor utama, sehingga mustahil baginya untuk tampil one man show. Bisa dibayangkan jika dia kelelahan lantaran memikul dua peran sekaligus di lokasi syuting.
Berkaca dari film sejenis, Believe, bahkan dibesut oleh dua sutradara: Rahabi Mandra dan Arwin Tri Wardhana. Mereka tak ikutan berakting pula. Atau tengok juga Pangku. Reza Rahadian yang aktor handal, benar-benar konsentrasi di kursi sutradara.
Alhasil, yang tersisa dari Timur sebatas film action yang boleh disimak tata kelahinya. Untuk proyek berikutnya, sebaiknya Iko pilih salah satu. Terlalu berani jika ia berada di kursi sutradara sambil melakoni adegan laga.
Nilai: 6.5/10
Review oleh: Bobby Batara
#timur #punditfilm #ruangfilmmm