review oleh: Genta Perwira
Nilai: 9/10
Mencari Rumah Melalui Luka Keluarga dan Bahasa Emosi di Sentimental Value
‘‘Help me, i can’t do this anymore. I can’t do it alone. I want a home. I want a home’’.
Sentimental Value terasa seperti kelanjutan yang tak terelakkan dari kolaborasi dynamic duo Joachim Trier dan Renate Reinsve, yang kembali membuktikan bahwa Trier adalah salah satu arsitek paling matang dalam merancang drama modern Skandinavia. Jika The Worst Person in the World bergerak lincah dan episodik, Sentimental Value melambat dengan sengaja, menanggalkan pesona pop generasionalnya demi sesuatu yang lebih dalam dan sunyi: keluarga, warisan emosional, dan luka yang diwariskan lintas generasi. Film ini tak lagi bertanya “siapa aku hari ini?”, melainkan “apa yang tersisa dari kita setelah semua absen, kemarahan, dan kesalahpahaman itu?”. Trier menyajikannya tanpa melodrama berlebih, dengan keyakinan bahwa emosi paling menghantam justru lahir dari kesunyian dan jeda.
Kisahnya berpusat pada dua saudara perempuan, Nora (Renate Reinsve) dan Agnes (Inga Ibsdotter Lilleaas), yang kembali berhadapan dengan ayah mereka, Gustav Borg (Stellan Skarsgård), seorang sutradara karismatik sekaligus manipulatif yang lebih setia pada seni ketimbang keluarga. Absennya sang ayah dan wafatnya sang ibu menjadi titik balik yang membuka kembali luka lama. Namun yang membuat Sentimental Value istimewa adalah cara Trier menolak menjelaskan segalanya secara gamblang. Relasi ayah–anak di sini dibangun dari akumulasi gestur-gestur kecil: intonasi suara, bahasa tubuh, serta tatapan yang tertahan. Penolakan Nora untuk membaca naskah film yang ditulis ayahnya menjadi simbol kuat dari penolakan emosional yang jauh lebih tua dan lebih dalam.
Salah satu pencapaian paling kuat film ini adalah bagaimana rumah keluarga Borg diperlakukan bukan sekadar sebagai latar, melainkan sebagai karakter hidup. Dari esai masa kecil Nora hingga voice-over khas Trier, rumah digambarkan punya perasaan: ia senang ketika penuh, menderita ketika sunyi, dan menyimpan ingatan di dinding serta pipa-pipanya. Rumah ini menjadi arsip trauma dan nostalgia, serta ruang tempat sejarah pribadi dan sejarah Eropa (perang, bunuh diri, dan ingatan kolektif) bertumpuk tanpa pernah benar-benar selesai.
Dari sisi akting, film ini nyaris tak menyisakan celah. Renate Reinsve tampil luar biasa dalam kepenatan yang tertahan, emosinya sering kali terasa justru ketika ia diam. Stellan Skarsgård menghadirkan Gustav sebagai figur yang sulit dicintai, namun terasa menyenangkan bagi sebagian orang, hangat sekaligus melukai, lucu namun kejam tanpa sadar. Interaksi keduanya, melalui sebatang rokok, tawa kecil, atau lelucon canggung, menunjukkan bahwa relasi yang retak tidak hanya berisi kebencian, tetapi juga sisa-sisa kasih yang tak pernah menemukan bahasanya. Kehadiran Elle Fanning sebagai Rachel, aktris Amerika yang mengambil peran Nora, memperkaya tema identitas dan representasi: tentang bagaimana seseorang bisa “memerankan” luka orang lain tanpa pernah benar-benar mengalaminya.

Secara tematik, Sentimental Value adalah film tentang seni sebagai bahasa pengganti, tentang upaya “berbicara tanpa bicara”. Gustav menggunakan film untuk mengatakan hal-hal yang tak pernah sanggup ia ucapkan sebagai ayah; Nora menjadi aktris karena ia tak ingin menjadi dirinya sendiri; Agnes, sebagai sejarawan, menggali masa lalu untuk memahami luka keluarga yang kini menjelma jarak emosional. Namun Trier juga cukup jujur untuk mempertanyakan batas seni itu sendiri: apakah seni menyembuhkan, atau justru mengeksploitasi? Apakah empati bisa dibangun lewat representasi, atau tetap menuntut keberanian hadir secara nyata? Di sinilah kalimat “it’s hard to love someone without mercy” menemukan bobotnya, bahwa belas kasih berbeda dari pengampunan, dan tidak selalu berujung padanya.
Pada akhirnya, Sentimental Value memang menuntut kesabaran. Ritmenya lambat, strukturnya terpotong oleh cut to black yang terasa seperti bab dalam novel, dan klimaksnya datang tanpa dialog besar. Namun justru di situlah kekuatannya. Film ini percaya bahwa rekonsiliasi tidak selalu dramatis, sering kali tak tuntas, dan kadang hanya berupa percobaan kecil untuk saling mendekat. Trier menutup filmnya dengan keyakinan lembut namun radikal, bahwa mencoba saja sudah cukup bermakna. Karena setiap keluarga, seperti setiap rumah, menyimpan kekacauan dan nilai sentimentalnya sendiri, dan beberapa luka mungkin tak pernah sembuh sepenuhnya, tapi tetap layak didengarkan.