Represi dan Pembunuhan oleh Aparat Keamanan yang Akhirnya Menumbangkan Rezim Pemerintah Korsel
Film ini membuka lembaran sejarah kelam Korea Selatan pada masa pemerintahan diktator Chun Doo-hwan. Tahun 1987, bangsa Korea hidup dalam bayang-bayang represi: mahasiswa, aktivis, bahkan rakyat biasa bisa ditangkap, disiksa, dan dipenjarakan hanya karena suara kritis mereka. Di tengah ketakutan itu, api perlawanan justru makin menyala.
Kisah berawal dari kematian seorang mahasiswa, Park Jong-cheol, yang meninggal di ruang interogasi akibat penyiksaan aparat. Pemerintah berusaha menutup rapat tragedi ini, namun suara kebenaran tidak bisa dibungkam. Seorang jaksa idealis, seorang wartawan pemberani, seorang sipir penjara humanis, hingga mahasiswa biasa semua terhubung dalam benang merah perlawanan. Setiap individu dalam film ini bukan sekadar tokoh, melainkan simbol dari jutaan rakyat Korea yang berjuang demi keadilan.
Seiring berjalannya cerita, layar lebar ini berubah menjadi potret nyata bagaimana gerakan rakyat bersatu. Dari universitas, gereja, hingga jalanan. Demonstrasi besar-besaran yang berujung pada June Democratic Struggle (Perjuangan Demokrasi di Bulan Juni) pada tahun 1987 menjadi klimaks penuh haru sekaligus kemenangan.
Rakyat akhirnya memaksa rezim membuka jalan menuju demokrasi, dengan pengumuman pemilu bebas, kebebasan pers, dan jaminan hak asasi manusia.
Secara sinematis, film ini dipenuhi ketegangan adegan kejaran aparat, bisikan antar-aktivis, hingga wajah-wajah muda yang berani menantang tirani. Namun di balik itu semua, 1987: When the Day Comes adalah sebuah kisah perlawanan terhadap rezim yang represif. Penghormatan bagi mereka yang rela mengorbankan hidup dan nyawa demi generasi selanjutnya agar hidup dalam demokrasi dan diadilkan.
Film ini bukan sekadar tontonan, tetapi pengingat. Demokrasi tidak pernah datang dengan mudah. Ia lahir dari darah dan air mata, dari keberanian orang-orang biasa yang menolak tunduk.
Nilai: 8.5/10
review oleh: John Tirayoh