We Deserve (Not) To Know
Spielberg & Alien? Yayyy!
Sebagai anak kecil yang terkesima lihat UFO nyanyi kedap-kedip di “Close Encounters of the Third Kind”, terharu sama E.T. yang pengen phone home, wajib hukumnya nonton dihari pertama release “Disclosure Day”, yang digadang-gadang sebagai film terbaik Spielberg dalam 2 dekade terakhir.
Awal film langsung bak buk der dor. Wardex, semacam organisasi rahasia pemerintah, melakukan pengejaran terhadap Daniel, mantan karyawan yang berhasil mengambil semua bukti tentang keberadaan alien selama puluhan tahun yang di-cover dengan sempurna. Tujuannya hanya satu: semua hal ini wajib diketahui oleh publik. Tepat di saat dunia di ambang World War III, semua harus diungkapkan.
Yes, we are not alone…
Klise? Ga asing? Biasa aja? Wait…
Tunggu dulu, setelah aksi di awal, pace berjalan cukup lambat hingga pertengahan film. Namun, kepiawaian Spielberg mampu membangun kisah penuh misteri berlapis, membuat penonton bertanya-tanya. Adanya keterkaitan tokoh utama antara Daniel dan Margaret, yang tidak pernah saling mengenal namun seperti digerakkan oleh invisible force untuk saling bertemu, dengan anomali-anomali yang penuh tanda tanya besar dijelaskan dengan penuh intimasi magis-science. Dan tentu saja, teori konspirasi serta kemunculan alien yang membuat kekalutan dunia, kepanikan, dan momen mempertanyakan eksistensi menjadi poin psikologis mendalam. Ini bukan sekedar film, semua melebur dalam satu ikatan kosmis yang menjadi sajian utama berbahaya dan tampil begitu mengesankan dengan balutan score megah ala John Williams.
Arrival, Interstellar, Three Body Problem minggir minggir, Nope-nya Jordan Peele apalagi, Disclosure Day jadi standar scifi baru yang sulit untuk dilewati.
Tapi tunggu dulu…
Sayangnya itu hanyalah harapan saya saja kepada mbah Spielberg akan film ini.
Please deh, mbah. Ngapain juga tiba-tiba ada scene crop circle? Basi! Kalo kata Cinta, malu sama Mel Gibson.
Cheesy dialogue, dengan narasi yang dibuat seakan berat, smart, dan menyeramkan akan keraguan kita terhadap agama dan Tuhan, namun sekali lagi malah bikin, “Apaan sih??”
Scene-scene bodoh, haru, dan ga penting, “harus gitu kita tiba tiba nangis pertama kali liat video alien luka??”, Misteri besar dengan jawaban yang sangat dipaksakan, dan tentu saja teori-teori konspirasi usang yang sudah banyak tersebar dari novel, film, sampai serial TV. Scene kejar kejaran sampe nabrak kereta ya lumayanlah, tapi buat apa? bukan film action juga. sekali lagi, Ga penting.
Sepanjang film masih berharap akan ada keajaiban. I mean, it’s Spielberg. Orang yang terobsesi akan keberadaan alien di luar sana pastinya dengan sengaja membuat semua kebodohan ini di ¾ film. Pasti dia akan membuat kejutan, entah apa pun itu, yang akan membuat semua penonton terpana.
And yes, kejutan itu ada…Tapi ya udah, gitu aja
Surpriseee… tiup lilin, nyanyi, film selesai. That’s it.
Mana pakai acara gantung yang ga wow juga.
Malah Alienya pengen jadi Beyoncé. Listen…
Skor : 6/10 (harusnya 5, 1 poin buat alienya keren, gede)
review oleh: Demas Bumi
Penulis Buku “A Photon is a Single Quantum of Love”