Faith, Hope, and Love Story
Tema apa yang saat ini laku dijual di bioskop kita? Selain drama yang menguras air mata, ada juga -macam yang pernah dikatakan Buni Yani- jualan agama. Dua hal itu terasa dalam Baby Udon, film arahan Fajar Bustomi.
Terinspirasi dari kisah nyata dengan skenario yang ditulis Oka Aurora, filmnya berkisah tentang Fanny Kondoh (Caitlin Halderman), perempuan yang dinikahi lelaki Jepang, Hajime Kondoh (Denny Sumargo). Upayanya untuk punya anak selalu gagal, akhirnya ikut program bayi tabung. Saat asa itu mulai tampak, ada cobaan lain. Hajime divonis kanker dan hidup Fanny pun kini diterpa badai.
Cerita Fanny khas dengan para pejuang garis biru yang menanti buah hati. Filmnya tahu banget untuk memainkan emosi penonton. Sungguh kisah perjuangan yang berat dan dibawakan aktornya dengan pas.
Di sisi lain, kadar kesedihannya dikurangi dengan para comic relief dan adegan humornya. Alhasil, filmnya tak selalu menyuguhkan melodrama. Penonton sejenak diberi ruang untuk tertawa sebelum kembali merasakan tragedi memilukan.
Produser Denny Sumargo paham betul produk jualannya. Selain kisah haru menanti buah hati dan cerita melawan penyakit, filmnya memasukkan lapisan religi yang kuat.
Masalahnya, isu itu kerap disampaikan secara verbal. Acapkali obrolannya terasa bak dakwah yang menjelaskan pesan film secara langsung kepada penonton. Bahkan adegan konversi agama divisualisasikan dengan gamblang.
Di titik ini, filmnya seperti kurang yakin pada kekuatan cerita dan karakter untuk menyampaikan pesannya. Apa yang seharusnya bisa hadir melalui tindakan, konflik, dan perkembangan karakter, justru beberapa kali ditegaskan lewat dialog.
Meski demikian, Baby Udon tahu betul emosi apa yang mau dimainkan, selain kehilangan, ada keyakinan, harapan, dan cinta. Film ini menjadikan perjuangan memiliki anak sebagai pintu masuk menuju kisah yang lebih besar tentang manusia saat menghadapi cobaan.
Pada akhirnya, ini adalah film tentang iman, pengharapan, dan kasih. Hanya saja, Baby Udon sangat tegas menjadikan emosi dan religiusitas sebagai daya jual.
Skor: 6.5/10 Bintang
review oleh Bobby Batara