Tarkam: Endgame
Film sepak bola punya pola stereotip: from zero to hero. Fakta itu muncul pula dalam drama olahraga “Bapakmu Kiper”. Di tangan Ody C. Harahap, dengan skenario Titien Wattimena dan Aaron Hart, filmnya menjadi komedi yang kental.
Warto (Fedi Nuril), sang penjual ikan, coba membangun lagi tim bolanya. Targetnya mendukung anaknya Dino (Ali Fikry), menang turnamen tarkam agar dilirik pemandu bakat. Namun Dino masih punya dendam kepada ayahnya. Demi meraih mimpi, ia pun kompromi setelah melihat kesungguhan Warto.
Sesuai judulnya, komedi film ini memang khas bapack-bapack. Ada jokes yang mashook, tapi tak sedikit pula yang gagal. Hit and miss, namun beberapa momen tetap sukses menuai tawa. Misalnya, nama-nama karakter, seperti Adam Hansip (Vidi Bule), Ngatiman Bengkel (Tata Ginting), hingga David Bekam, yang aslinya tukang bekam. Mereka diajak lagi setelah lama absen dari lapangan, laiknya Nick Fury merekrut Avengers.
Sebagai film olahraga, atmosfer balbalannya cukup terasa. Perkusi dan chant suporter membantu membangun rivalitas pertandingan. Sosok dukun yang ikut mengatur jalannya laga juga bagian dari bumbu absurd yang menarik.
Di balik kekuatannya, film ini kedodoran dalam membangun emosi. Ody terlalu gaspol menuntaskan konflik Warto dan Dino. Luka dan dendam mendadak cair setelah Dino melirik usaha ayahnya. Perdamaian mereka sekadar basa-basi agar ceritanya cepat tuntas.
Komedinya terasa seperti solusi instan. Saat dramanya tak cukup kuat, langsung lontarkan kelakar. Penonton memang tertawa, tetapi tak benar-benar diajak merasakan luka hubungan bapak dan anak. Tanpa fondasi emosional itu, kemenangan di lapangan kini kehilangan bobotnya.
Pemakaian AI untuk mengakali hal teknis juga menjadi catatan. Teknologi memang membantu di sejumlah adegan, tetapi ketika hasilnya terasa janggal, ia malah menguak keterbatasan produksi. Alih-alih hasilnya lebih meyakinkan, sebagian efek malah terasa bak jalan pintas.
Skor: 6.5/10 Bintang
review oleh: Bobby Batara