Indonesia Timur Punya Cerita (Horor)
Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya budaya, termasuk dalam hal mitos dan cerita alam gaib. Dari Indonesia Timur, ada suanggi yang baru saja difilmkan sutradara Dom Dharmo dalam Suanggi: Ilmu Kutukan.
Secara khusus, film ini menyoroti fenomena suanggi yang ada di Papua. Dalam mitos lokal, suanggi adalah sosok yang memiliki ilmu gaib dan bisa berubah wujud menjadi makhluk mengerikan. Kisah itu kemudian dipadukan dengan drama keluarga yang kental dan sarat konflik.
Cerita bermula saat Beni (Pangeran Lantang) mudik ke kampung halamannya di Pulau Kladum, Papua, bersama kekasihnya, Gia (Carissa Perusset). Beni yang terlilit utang mengaku pulang untuk menengok ibunya yang sakit keras.
Kedatangan Beni membuat heboh warga desa. Disusul kemudian, teror supranatural melanda keluarga Beni dan warga sekitar. Sumber teror itu ternyata sosok suanggi bernama Aroba (Iwa K). Perlahan, terungkap pula rahasia kelam Beni yang selama ini ditutup rapat.
Suanggi menambah koleksi cerita horor dengan latar yang masih jarang dikupas dalam sinema Indonesia. Premisnya menarik dan orisinal. Skenario yang ditulis Baskoro Adi Wuryanto, Nicholas Raven, dan Dom Dharmo cukup mengalir, meski kehadiran flashback di beberapa bagian membuat alurnya terasa membingungkan.
Dom sukses merekam atmosfer Papua yang jarang muncul di sinema kita. Tanpa ragu, ia menyajikan adegan sadis untuk memperkuat efek teror sekaligus kepentingan artistik. Bahkan, keberanian itu membuat filmnya mendapat klasifikasi usia 21 tahun ke atas.
Catatan terbesar justru datang dari judulnya. Suanggi bukanlah “ilmu kutukan”, melainkan sebutan bagi sosok manusia yang dianggap punya ilmu hitam dan bersekutu dengan anasir jahat. Terasa ada perubahan makna yang cukup signifikan demi kepentingan dramatisasi cerita.
Di balik itu, Suanggi menawarkan hal baru yang memikat: horor yang berasal dari khazanah mitologi Indonesia Timur, plus praktik pengusiran roh jahat dalam konteks iman Kristiani. Kendati belum rapi betul dalam bercerita, film ini membuktikan bahwa masih ada ruang bagi cerita lokal untuk menjadi ide horor yang segar di layar lebar.
Skor: 6.5/10 Bintang
review oleh: Bobby Batara