Film dokumenter berjudul NAZA mendapatkan standing ovation dari penonton setelah pemutaran di Festival Film Internasional Venezia 2026.
Selama 25 Menit, para penonton memberikan apresiasi terhadap pembuat film dokumenter NAZA yang diputar perdana (World Premiere) pada Kamis (10/9) Sore, di Sala Grande, Venezia.
Tepuk tangan selama 25 menit ini memecahkan rekor tepuk tangan tahun lalu untuk film The Voice of Hind Rajab yang mendapatkan 24 menit tepuk tangan. Film The Voice of Hind Rajab berkisah pilu mengenai anak kecil yang terjebak di Gaza dan terbunuh.
Film Dokumenter NAZA justru dibesut oleh Yuval Abraham dan Rachel Szor yang merupakan sineas asal Israel. Naza Berdasarkan wawancara dengan 24 perwira intelijen dan tentara Israel yang berani bersaksi terkait operasi militer Israel di Gaza.
Mengungkap penggunaan kecerdasan buatan (AI), pengawasan telepon, dan sistem militer Israel di Gaza untuk menentukan target yang memang anggota Hamas maupun bukan anggota Hamas yang dicurigai oleh militer Israel.
Lalu dengan teknologi canggih, melenyapkan target di rumah masing-masing, tanpa mempedulikan kemungkinan tewasnya anak-anak dan anggota keluarga lainnya dalam serangan tersebut.
NAZA menjadi istimewa bukan hanya karena dibuat oleh sineas Israel.
Namun dikarenakan dokumenter ini berani dan berhasil mewawancarai para serdadu Israel (yang disamarkan wajahnya dalam gelap saat wawancara) yang bicara blak-blakan mengenai operasi militer Israel di Gaza.
Dokumenter Naza memang menjadi perhatian khusus dalam ajang Festival Film Internasional Venezia 2026.
Naza menjadi satu-satunya film dokumenter yang masuk dalam kompetisi utama untuk mendapatkan penghargaan Golden Lion.
Biasanya dalam kompetisi utama ini adalah film-film non dokumenter yang bersaing untuk meraih Golden Lion.
Bagi Yuval Abraham dan Rachel Szor, NAZA bukanlah kisah dokumenter pertama bagi keduanya dalam mengkritisi pemerintahannya sendiri yaitu pemerintahan Israel.
Sebelumnya, keduanya pernah membesut dokumenter berjudul No Other Land (2024) yang mengisahkan aktivis kemanusiaan Palestina yang berani melawan penggusuran dan kekerasan yang dilakukan oknum pemukim Israel di wilayah Masafer Yatta, Tepi Barat, Palestina.
Yuval Abraham mengalami intimidasi berat dan ancaman pembunuhan setelah membuat dokumenter No Other Land memenangkan penghargaan di Berlin pada Februari 2024.
Ancaman pembunuhan didapatkan lewat media sosial pribadinya.
Keluarganya di Israel didatangi oleh pihak sayap kanan Israel sehingga harus mengungsi. Yuval bahkan saat itu menunda kepulangannya ke Israel.
Sumber Berita: Variet, Deadline, Al-Jazeera
Sumber Foto & Video: Berbagai sumber