13 Jam Neraka di Benghazi
Ketika Aliansi Barat pimpinan AS melihat Libya sudah lemah, penggulingan terhadap pemimpin Khadafi menjadi opsi. Namun, kesalahan terjadi ketika Khadafi digulingkan, justru Libya menjadi tak terkontrol dengan para penguasa lokal menguasai masing-masing wilayah di Libya. AS sendiri tak mau kalau senjata bekas rezim menjadi dijual di pasar gelap dan jatuh ke tangan teroris. Oleh karena itu AS mengirimkan tim CIA (Badan Rahasia Intelejen) AS untuk menelusuri senjata-senjata tersebut.
Pada tahun 2012, Markas CIA yang ada di Benghazi, dijaga oleh pihak keamanan swasta yang merupakan mantan para prajurit AS dengan kemampuan elit. Di saat bersamaan, AS secara percaya diri membuka konsulat di Benghazi, serta sang Dubes juga sedang berada di Benghazi untuk pemulihan dan doktrin demokrasi untuk Libya. Namun apa yang terjadi, Konsulat diserang oleh militan anti AS dan markas CIA musti diserbu oleh para militan tersebut.
Film ini bukan hanya kisah perang modern, tetapi juga potret keberanian di tengah kekacauan politik dan pengkhianatan birokrasi. Ketika seakan pemerintah AS gagap menonton tanpa bertindak, enam pria memilih untuk tetap bertahan. Dalam gelapnya malam Benghazi, mereka menemukan arti sejati dari loyalitas, pengorbanan, dan saudara seperjuangan.
13 Hours adalah film yang membakar adrenalin sekaligus mengguncang hati. Film ini meninggalkan gaya “aksi bombastis” khasnya dan menukarnya dengan ketegangan yang mentah, realistis, dan menghantui. Dari detik pertama, penonton diajak menyelami panasnya Benghazi. Kota yang meledak dalam kekacauan, di mana setiap lorong, setiap cahaya, bisa menjadi sumber kematian.
Setiap ledakan terasa nyata Dan ketika fajar menyingsing di akhir film, keheningan setelah baku tembak terasa lebih menyakitkan daripada suara peluru. Karena yang tersisa hanyalah tubuh-tubuh yang lelah, luka yang tak terlihat, dan pertanyaan tentang makna pengorbanan. 13 Hours bukan hanya kisah perang, namun juga kisah tentang tanggung jawab, keberanian, dan rasa kemanusiaan di tengah absurditas politik.
Nilai: 8/10
Ulasan film oleh: John Tirayoh