Kesuksesan Hingga Kejatuhan Blackberry
Mike Lazaridis dan Douglas Fregin adalah insinyur cerdas dan pintar. Mereka mempunyai visi besar akan penciptaan sebuah produk yang ingin menguasai dunia.
Bakat dan talenta mereka dilihat oleh Jim Balsillie yang sangat pragmatis dalam menjalankan bisnis. Jim melihat potensi dari RIM yang dipimpin oleh Mike dan Doug. Dengan kemampuan marketing Jim serta penciptaan produk oleh Mike dan Doug, akhirnya Blackberry tercipta. Sebuah ponsel pintar yang akhirnya sukses di seluruh penjuru dunia termasuk di Indonesia.
Tapi di balik kesuksesan, tumbuh kesombongan, konflik ego, dan keputusan fatal. Saat dunia bergerak menuju layar sentuh dan ekosistem aplikasi, para pencipta BlackBerry justru terjebak dalam kejayaan masa lalu mereka sendiri.
Bagian paling menghantam bukan saat BlackBerry berjaya—melainkan saat mereka gagal melihat masa depan. Ketika iPhone hadir dan dunia berpindah ke layar sentuh, BlackBerry justru sibuk mempertahankan ego internal dan struktur lama. Kejatuhan ini terasa tragis bukan karena kebangkrutan semata, tetapi karena semuanya bisa dicegah.
Gaya penyutradaraan seperti dokumenter cepat, handheld, penuh umpatan, dan tanpa romantisasi berlebihan. Ini bukan film biopik yang mengagungkan. Melainkan membedah kesuksesan dan kesalahan secara vulgar.
Sosok Jim Balsillie yang diperankan oleh Glenn Howerton menjadi pondasi kuat film ini. Glenn mampu menampilkan sosok Jim sebagai monster yang berkarisma. Ambisi, amarah, manipulasi, dan rasa lapar akan kekuasaan ditampilkan secara brutal dan memukau.
Dari sosok Jim, film ini menegaskan bahwa Jim adalah badai yang menyeret semua orang ke puncak dan kemudian ke jurang. Sementara Jay Baruchel sebagai Mike menjadi simbol jenius yang terlalu polos untuk dunia bisnis yang kejam.
Nilai: 8/10
Review oleh: Jonathan Ricky