Melihat Genosida dari Mata Seorang Anak
Film ini diadaptasi dari memoar Loung Ung, seorang penyintas genosida Kamboja pada masa rezim Khmer Merah (Khmer Rouge) di bawah pimpinan Pol Pot pada tahun 1975.
Ketika pasukan Khmer Merah merebut Phnom Penh dan memaksa warga kota meninggalkan rumah mereka menuju pedesaan dengan program komunis Khmer Merah.
Loung yang masih kecil dan keluarganya harus berpura-pura sebagai petani agar tidak dicurigai oleh rezim yang anti-intelektual. Namun, keadaan semakin memburuk ketika keluarganya terpisah dan ia akhirnya direkrut menjadi tentara anak untuk kepentingan Khmer. Kisah Loung ini menjadi perjalanan film hingga akhirnya kekuatan Khmer merah kalah oleh invasi Vietnam.
Kekuatan terbesar film ini adalah penggambarannya dari perspektif Loung Ung yang berusia 5-7 tahun. Gambaran trauma dan kengerian perang tidak melalui dialog politik yang rumit. Namun, melalui mata anak yang fokus pada detail kecil di tengah kamp konsentrasi Khmer dan bingung akan nasib orang tuanya. Hal ini membuat film terasa jujur, personal, dan menghancurkan.
Sedikit kekurangan film ini mungkin kurang terlalu menggali kekejaman Rezim Pol Pot seperti di film Killing Fields (1984). Sementara memoir Loung adalah kekejaman Pol Pot yang pada akhirnya telah membunuh sekitar 2 Juta rakyatnya sendiri.
Bukan sekadar film sejarah, film ini adalah potret kemanusiaan yang hancur dan ketabahan seorang anak di tengah kegelapan. Angelina Jolie menyutradarai dengan pendekatan penuh empati: dialog sedikit, gambar berbicara banyak. Setiap adegan dipenuhi ketegangan sunyi yang mematikan.
Film ini tidak mencari sensasi, melainkan menghadirkan kejujuran pahit tentang trauma dan kehilangan. Loung kecil menjadi simbol dari jutaan anak korban perang yang tak pernah diminta untuk menjadi bagian dari sejarah, tetapi harus menanggung bebannya.
Nilai: 8/10
review oleh: John Tirayoh
Tayang: Netflix