review oleh: Adya Nisita
Perjalanan Mengkonfrontasi “Sang Pencipta”
Sains dan industrialisasi seolah meminjamkan kekuatan Tuhan kepada manusia. Konon, Mary Shelley terinspirasi menulis kisah Frankenstein dari eksperimen Luigi Galvani yang tampak “menghidupkan” kembali katak mati dengan mengalirkan listrik ke jaringan ototnya. Ilmu pengetahuan kerap bersinggungan dengan persoalan etika: sejauh mana kemajuan manusia dapat dibenarkan menembus batas-batas ketuhanan? Apa yang terjadi ketika ambisi dan kemajuan teknologi melampaui empati?
Guillermo del Toro bukan kali pertama membuat penontonnya bersimpati pada sosok “yang liyan”. Kerap digambarkan lebih “manusiawi” daripada manusia, tokoh monsternya justru lebih memikat. Pemilihan Jacob Elordi sebagai The Creature makin menguatkan kesan itu. Tampaknya sedang trendi menampilkan the beast yang memesona, seperti Bill Skarsgård dalam Nosferatu-nya Robert Eggers. Namun del Toro tidak sekadar menciptakan monster yang “seksi”, ia memberi makna pada karakter Elordi. The Creature punya suara dan kesadaran untuk belajar menjadi manusia, serta keberanian menuntut keadilan atas penciptaan yang tak dikehendakinya.
Akibat belum baca novel asli Mary Shelley, saya sepenuhnya mengandalkan penceritaan versi del Toro. Dan saya rasa ia berhasil menampilkan sisi filosofis dan dramatik ceritanya dengan seimbang. Ambisi Victor Frankenstein “dijustifikasi” melalui hubungannya dengan sang ayah. Ia diberi nama Victor, namun tak pernah benar-benar dianggap berarti di mata “penciptanya” sendiri. Pola itu kemudian diulangi ketika ia “menciptakan” The Creature. Seperti ayahnya, Victor menelantarkan ciptaannya karena makhluk itu tak sesuai dengan dambaannya. Bentuk trauma antargenerasi tersebut relevan betul bagi penonton masa kini, menjadikan film del Torro lebih relatable secara emosional.

Cara del Toro menuturkan kisahnya terasa seperti dongeng kelam yang sarat renungan tentang existence, kesepian, dan spiritualitas. Film ini menggambarkan keengganan untuk dilahirkan sampai akhirnya harus menerima bahwa konsekuensi dari kehidupan adalah terus hidup. Ketika manusia berangan-angan menjadi abadi, The Creature justru menunjukkan bahwa kefanaan mungkin adalah anugerah terbesar bagi yang pernah hidup.
Kini ketika banyak orang berlomba-lomba menjadi “Victor Frankenstein” dengan menerabas batasan atas nama kemajuan manusia, apakah mereka benar-benar siap menghadapi “monster” hasil perbuatannya? Atau, jangan-jangan, mereka hanya sedang mengulang nasib Victor: mati di tangan ciptaannya sendiri?
Nilai: 8/10
Tayang: Netflix
#frankenstein #reviewfrankenstein
