Kisah Perjuangan, Represifitas Negara, dan Pengkhianatan
Amerika Serikat sebagai sebuah negara adi daya di era perang dingin sebenarnya compang-camping ketika menghadapi gelombang anti perang Vietnam dan juga diskriminasi ras yang masih kuat.
Akhir 1960-an membuktikan itu dengan munculnya gelombang demokrasi dan juga bermunculan berbagai organisasi perlawanan terhadap pemerintah AS yang seringkali membuat kebijakan tidak populer di mata rakyat.
Salah-satu kelompok yang menjadi simbol perlawanan adalah kelompok Black Panther. Kelompok kritis dan revolusioner yang memperjuangkan hak-hak kulit hitam.
Kelompok ini sudah hampir menjadi kelompok kekuatan bersenjata di tengah masyarakat AS. Black Panther berani tampil militan dan mencari incaran Biro federal (FBI) yang saat itu dipimpin Edgar Hoover yang bisa dibilang sangat represif.
Di sisi Black Panther, Fred Hampton, Ketua Black Panther cabang Illinois, Chicago tampil dengan kharismatik. Dirinya mampu mengorganisir, bertindak militan, dan menjadi momok bagi pemerintah. FBI memanfaatkan seorang pencuri untuk masuk dalam Black Panther untuk melemahkan bahkan memberangus Fred Hampton Cs.
Film ini bukan sekadar film biopik sejarah. Film ini menggambarkan tentang pemerintahan yang represif, pengkhianatan, dan harga sebuah revolusi. Film ini juga menuturkan kisah ini bukan dari sudut pandang internal kelompok Black Panther semata. Namun juga dari sudut si pengkhianat yang menjadikan film ini adalah tragedi pedih dan realistis.
Secara visual, film ini muram, dingin, dan penuh ketegangan. Kamera bergerak intim, seolah mengintai. Mengingatkan bahwa pengkhianatan selalu terjadi dari jarak paling dekat. Ironisnya dan paling menghantam adalah fakta bahwa ini bukan fiksi. Ini sejarah. Dan sejarah itu berdarah.
Judas and the Black Messiah adalah film tentang perjuangan yang dibunuh dari dalam. Menggambarkan bagaimana sebuah gerakan bisa runtuh bukan hanya oleh peluru musuh, tetapi oleh pengkhianatan orang terdekat.
Nilai: 8/10
Review oleh: John Tirayoh