review oleh: Aris Kurniawan
Gambaran Dunia Peradilan Yang Penuh Manipulasi
Raka sudah kebal melihat persidangan penuh sandiwara. Hatinya mengalami imun saking seringnya melihat hakim memvonis bebas pelaku kejahatan, dan menghukum korban tak bersalah.
Namun sampai suatu ketika peristiwa ketidakadilan menimpa Raka. Dirinya baru merasakan di posisi bagaimana keadilan hanya milik yang mempunyai uang.
Cerita film ini terasa sangat familiar di dunia nyata peradilan kita. Film ini dengan gamblang ingin memperlihatkan betapa berurusan dengan pengadilan dan kepolisian bagi rakyat biasa yang tidak punya uang lebih di negeri ini tak ubahnya terperosok ke hutan rimba yang penuh hewan buas.
Film ini menyajikan dialog-dialog yang menohok dan cerdas. Adu argumen antara Raka dan Timo di persidangan sangat seru dan mengasyikkan. Para pemain berhasil menghidupkan karakternya masing-masing dengan porsi yang pas.
Film ini hasil kolaborasi dua sutradara dari dua negara, yaitu Yusron Fuadi (Indonesia) dan Lee Chang-hee (Korea Selatan) terasa betul ditulis dengan riset yang serius. Durasi sepanjang 100 menit sama sekali tidak membosankan.
Kita bisa mengikuti ketegangan yang terjadi di ruang persidangan. Melihat bagaimana gaya hidup anak-anak orang kaya yang bisa berbuat semaunya, menganiaya bahkan menghilangkan nyawa orang, tanpa bisa tersentuh hukum.
Secara keseluruhan film ini cukup menarik, tidak sekadar dar der dor dan adu jotos. Lebih dari itu film ini membawa pesan yang begitu bagus bagi mereka yang menjadi penegak hukum.
Di negeri yang kita cintai ini, seringkali kita merasakan bahwa keadilan tak lagi milik semua rakyat. Namun hanya untuk bagi mereka yang mempunyai materi.
Nilai: 7/10
#filmkeadilan #punditfilm #ruangfilmmm