Menunggu Keajaiban di Dasar Laut
Film ini menceritakan kisah salah satu pekerjaan paling berbahaya di dunia. Yaitu menjadi penyelam untuk perbaikan pipa minyak yang berada di dalam Samudra lepas, tepatnya di Laut Utara.Â
Chris Lemons yang menjadi salah satu penyelam, saat menjalankan tugas tersebut, musti terjebak dan dengan keterbatasan alat, musti diselamatkan. Di kedalaman samudra yang gelap, komunikasi hilang, dan harapan seakan ikut tenggelam bersama arus dingin Laut Utara. Hanya tabung oksigen kecil yang menemaninya, detik demi detik menuju kematian.
Sementara itu, di atas permukaan, badai mengamuk. Kru kapal dan rekan-rekan penyelam berpacu dengan waktu, menantang ombak, sistem yang gagal, dan rasa putus asa yang menghantui. Setiap detik adalah pilihan. Menyerah pada takdir atau melawan mustahil demi satu nyawa.
Last Breath bukan sekadar film tentang penyelaman, tapi sebuah kisah nyata yang dihidupkan kembali dengan ketegangan sinematis. Film ini membawa penonton ke kedalaman Laut Utara, menghadirkan teror gelap, dingin, dan kesunyian ketika Chris Lemons terjebak lebih dari 100 meter di bawah permukaan.Â
Sutradara Alex Parkinson, yang sebelumnya membuat dokumenter Last Breath(2019), kini menyajikan versi dramatis dengan lapisan emosional yang lebih kuat. Didukung akting intens Woody Harrelson, Simu Liu, dan Finn Cole, film ini memadukan realisme teknis dengan ketegangan psikologis. Hasilnya adalah pengalaman sinema yang menegangkan sekaligus menggugah rasa kemanusiaan.
Keberhasilan Last Breath terletak pada cara ia menghadirkan harapan di tengah keputusasaan. Bukan hanya perjuangan seorang manusia melawan batas hidup, tetapi juga solidaritas, pengorbanan, dan keyakinan bahwa nyawa siapa pun layak diperjuangkan. Sebuah film yang membuat kita bertanya: bagaimana rasanya menunggu napas terakhir, sambil berharap keajaiban datang dari atas permukaan?
Nilai: 7.5/10
Ulasan film oleh: John Tirayoh