review oleh: Adya Nisita
Nilai: 9/10
Potret Drama Keluarga Tak Biasa dan Beban Ganda Perempuan
Dari seluruh nilai plus Left-Handed Girl, pesona terbesarnya lahir dari cara film ini bercerita lewat mata anak-anak. I-Jing, bocah lima tahun yang baru pindah kembali ke kota bersama ibu dan kakak perempuannya, menyerap kegelisahan orang dewasa di sekitarnya. Dalam pola pengasuhan yang minim ruang dialog, ia mencerna dunia dengan logika lugunya sendiri: “kalau ini salah, kenapa orang dewasa melakukannya?”
Ketika kondisi kidalnya suatu hari dilabeli sebagai “tangan iblis” oleh sang kakek, I-Jing menerjemahkan stigma itu sebagai pembenaran polos: “bukan aku yang melakukannya, tapi tangan iblis!” Dari sini, film menunjukkan bagaimana kekerasan simbolik bisa bekerja bahkan tanpa niat jahat, cukup lewat takhayul turun-temurun.
Left-Handed Girl tidak memosisikan tradisi sebagai ornamen budaya semata. Ia hadir sebagai kuasa tak kasatmata yang mendisiplinkan perempuan melalui rasa malu, utang budi, dan tuntutan menjaga nama baik keluarga. Patriarki membuat anak laki-laki diperlakukan sebagai investasi masa depan, sementara anak perempuan sekadar “air yang tumpah”.

Ingatan akan kekerasan ini tidak berhenti pada satu generasi. Ia mengendap, lalu menyusup ke pola asuh berikutnya. Trauma jelas diwariskan. Ketiga tokoh perempuan dalam film ini selalu punya cara memikul beban hidupnya sendiri, dalam kesepiannya masing-masing.
Di sela kehangatan dan humornya, selalu terselip hawa getir khas perjuangan kaum miskin urban. Diambil sepenuhnya menggunakan iPhone, film ini membangun keintiman yang terasa seperti voyeurisme, seolah penonton sedang mengintip kehidupan orang lain lekat-lekat.
Left-Handed Girl merekam keseharian orang-orang biasa, lengkap dengan aib dan kegagalannya. Film ini memaksa kita melihat bahwa rasa malu adalah semata bagian dari hidup. Babak penutupnya pun terasa elegan dan jujur, seakan mengingatkan bahwa hidup toh pada akhirnya harus tetap berjalan.
#lefthandedgirl #punditfilm #ruangfilmmm
