Anak Durhaka 4.0
Indonesia kaya banget dengan cerita rakyat, salah satunya dongeng rakyat Minang, Malin Kundang si anak durhaka. Ah, bagaimana kalau dikemas dalam versi kekinian. Pasti jadi menarik. Itulah yang terpikir di benak sineas Joko Anwar ketika bikin Legenda Kelam Malin Kundang.
Namun kali ini Joko menyerahkan tongkat estafet kepada dua sutradara pendatang baru, Kevin Rahardjo dan Rafki Hidayat. Atas nama regenerasi. Rafki juga ikut menulis skenario bareng Joko dan Aline Djayasukmana, lantas dibungkus dalam genre thriller psikologis yang fokusnya pada soal trauma keluarga.
Tokoh utamanya, Alif, pelukis micro painting beken. Sempat dirawat karena kecelakaan, dia kembali menata hidup bareng istrinya. Ketenangan mereka terusik ketika seorang perempuan datang mengaku sebagai ibunya. Tak ingat lagi raut muka sang ibu, Alif terseret ke dalam labirin misteri rahasia kelam.
Di tangan duet Kevin dan Rafki, sulit disangkal ini film yang Joko banget. Tengok deh genrenya yang khas, dan akhirnya mengajak penonton menebak-nebak apa sih kejutan yang bakal muncul. Ya, motifnya sendiri sungguh mengejutkan: kenapa sih Alif Kundang ini jadi anak durhaka.
Konon sekitar 9 dari 10 sinefil ngarep banget ada plot twist di setiap film Joko. Ada nggak ya? Di sini, mereka bakal tersenyum melihat pernik yang pernah hadir dalam filmnya.
Bagaimana dengan kinerja Kevin dan Rafki sendiri? Ternyata lumayan mulus. Arahan kepada para pemainnya terasa lancar dan meyakinkan. Totalitas Rio Dewanto mengingatkan kita pada Modus Anomali (2012) yang sedang terganggu jiwanya. Faradina dan Vonny pun tak kalah membagongkan.
Demikian pula pada pengadeganan dan eksekusi teknis lainnya: mereka mampu membangun atmosfer horor tanpa perlu ada hantu sama sekali. Kekuatan utama ada pada cerita yang efektif dan jelas, sehingga jadi keuntungan tersendiri bagi sutradara. Hasilnya, film ini mampu berbicara sendiri, tanpa harus dijelas-jelaskan di luar film.
Alhasil, peralihan generasi yang dilakukan Joko cukup berhasil. Mungkin hanya soal waktu, kapan Kevin dan Rafki bisa lepas dari bayang-bayang sang mentor. Mampukah mereka melakukannya? Let’s see.
Nilai: 7/10
review oleh: Bobby Batara