Nafas Baru untuk Tontonan Anak yang Menghibur dan Inspiratif
Film Anak? Ya…Film anak terasa kurang. Benar saja ucapan sang sutradara dan produser film ini yang mengatakan bahwa anak juga punya hak menonton. Anak berhak mendapatkan tontonan yang menghibur namun juga inspiratif.
Menyinggung sedikit Film Jumbo yang hadir tahun 2025 lalu, seperti sebuah oase bagi para anak untuk mendapatkan tontonan yang menarik, mudah diikuti, serta juga berkualitas.
Lalu muncul film Pelangi di Mars yang menggabungkan live action dan animasi. Wow!
Sang sutradara bercerita panjang lebar dari ide pembuatan hingga film ini bisa dinikmati di biokop. Para pembuat film ini ternyata tidak hanya membuat film yang “berani” untuk pasar penonton Indonesia. Berani dalam artian mengambil resiko besar dengan bujet yang tentu tak sedikit lewat segala teknologi yang dibutuhkan untuk membuatnya.
Upie Guava Cs dalam membuat Pelangi di Mars tidak hanya membuat sebuah film anak yang penuh efek visual. Namun, para pembuat film ini sedang menancapkan pondasi penting menggunakan teknologi dalam dunia perfilman nasional.
Kisahnya sederhana. Di tahun 2100 bumi telah tercemar. Indonesia dengan gagah diwakili astronot Pratiwi pergi ke Planet Mars untuk menemukan Zeolit Omega. Namun, korporasi yang jahat, membuat Ibu Pratiwi sendirian di Mars. Tak disangka Pratiwi mengandung anak yang diberi nama Pelangi. Pelangi akhirnya lahir dan besar di Mars.
Singkat kata, Pelangi ditemani robot-robot jenaka bernama Batik, Petya, Sulil, Kimchi, dan Yoman. Bersama robot-robot lucu ini, Pelangi berpetualang di Mars untuk menemukan Zeolit Omega dan kembali ke bumi dan juga ingin bertemu sang ayah.

Melihat animasi robot bernama Batik jumpalitan ala Tranformers, membuat saya yang dewasa tersenyum. Karena bagi saya sempat berpikir ketika melihatnya. “Saya bukan sedang menonton film Pixar atau Disney. Namun saya menonton film nasional buatan anak negeri.” Kalaupun ada bolong-bolong dari animasi yang ditampilkan, itu tentunya sangat dimaklumi.
Mencoba masuk ke pikiran anak, jumpalitannya Batik tersebut pasti akan sangat menghibur para anak Indonesia. Karena imajinasi anak tentunya terpacu melihat hal-hal seru dari efek visual yang ditampilkan .
Saya juga sepakat ketika skenario kisah ini hanya berputar di Pelangi dan Batik Cs yang sepertinya berjalan lamban dan lebih ke “becanda” daripada tujuan utama mencari Zeolit Omega. Hey, film ini memang dirancang untuk ringan dan mengikuti alur yang mudah diikuti oleh anak-anak.
Dalam skrip adalah brilian ketika Batik atau Petya memberikan selipan pengetahuan umum yang mudah dicerna dan diingat oleh anak-anak. Mulai dari khas masakan Rusia hingga penghitungan hari di Mars dinamakan Sol. Sejujurnya, saya lupa beberapa selipan pengetahuan lainnya yang disematkan di dialog-dialog film ini.
112 Menit durasi film ini rasa-rasanya pas untuk para anak-anak mengikuti petualangan Pelangi yang diperankan oleh Messi Gusti. 112 menit yang berjalan menghibur, memanjakan mata lewat visual yang tak kalah menarik seperti film Wall E atau Avengers sekalipun.
Secara keseluruhan Pelangi di Mars adalah sebuah pondasi di dunia perfilman nasional untuk kategori film live-action yang menggabungkan animasi. Upie Guava Cs sedang mencoba meraih prestasi seperti George Lucas dengan imajinasinya saat membuat Star Wars.
Sudah Seharusnya dan sudah sepatutnya bahwa Pelangi di Mars menjadi universe tersendiri yang menjadi impian Upie Guava Cs.
Nilai: 8/10 Bintang
review oleh: John Tirayoh
Produksi: Mahakarya Pictures
Produser: Dendi Reynando
Sutradara: Upie Guava
Penulis Skenario: Upie Guava & Alim Sudio
Pemeran: Messi Gusti, Lutesha, Rio Dewanto, Livy Renata, Myesha Lin Adeeva, Kristo Immanuel, Gilang Dirga, Bimo Kusumo Yudo, Vanya Cinta Rivani, Dimitri Arditya Hardjana, Almanzo Konoralma, Rika Kenja, Satria Towel
Genre: Drama, Fiksi Sains | Durasi: 1 Jam 52 Menit |
Klasifikasi Penonton: Semua Umur
Tayang 18 Maret 2026