review oleh: Bapak Husny Mubarok Amir (Wakil Ketua PWNU Jakarta)
Nilai: 7.5/10
Maha Guru dan Patriotisme Kaum Sarungan
Film Sang Kyai adalah Biopik atau Film Biografi dari Sang Maha Guru, Hadrotusyaikh Kyai Hasyim Asy’ari. Hasyim Asy’ari merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang Jawa Timur, sekaligus Pendiri Nahdlatul Ulama. Ormas Keagamaan di Indonesia yang berdiri Tahun 1926 di Surabaya.
Di Film ini terlihat sosok Kyai Hasyim Asy’ari (Ikranegara) selain mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada para santri, beliau juga sangat menjujung tinggi Nilai Kemanusiaan, Nasionalisme dan Patriotisme Kebangsaan.
Film ini berlatar belakang penjajahan Jepang setelah Belanda hengkang dari Indonesia pada perang dunia kedua, awal 1940’an. Bahkan dalam film ini tergambarkan banyak para ulama atau Kyai pesantren yang ditangkap dan dipenjara oleh tentara Nippon atau Jepang.
Kemarahan tentara Jepang kepada Hasyim Asy’ari dimulai dari penolakan Hasyim terhadap seikerei atau hormat menyembah kepada matahari sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur mereka. Wahid Hasyim yang diperankan oleh Agus Kuncoro dan seorang santri bernama Harun (adipati dolken) sangat heroik memerankan lakon mereka dalam adegan penangkapan Kyai Hasyim Asy’ari, bahkan ketika siksaan dalam penjara menimpa beliau.
Film ini selain memuat adegan-adegan epik heroik yang terjadi pada masa penjajahan Jepang, penagkapan Kyai Hasyim, pindahnya tahanan ke Mojokerto, lobi diplomatis dari Wahid Hasyim dan Kyai Wahab Hasbullah, bahkan juga memuat beberapa potongan kisah romantis seperti sepenggal cerita cinta antara si santri, Harun dan Sari.
Film ini sarat dengan dinamika perjuangan, antara pemikiran dan gerakan. Kalo di Nahdlatul Ulama, hal ini biasa disebut dengan Fikroh (pemikiran) dan Harokah (gerakan). Yang keduanya melahirkan gagasan dan ide, baik strategis maupun taktis perjuangan. Perdebatan dalam dinamika ini, terselesaikan dengan kesimpulan Wahid Hasyim yang disampaikan oleh ayahandanya, bahwa agama dan nasionalisme bukan kutub yang saling bertentangan.
Perjuangan dalam hidup Kyai Hasyim Asy’ari di warnai dengan perlawanan terhadap para penjajah. Baik dari penjajahan Belanda maupun Jepang pada perang dunia ke 2. Bahkan, patriotisme Sang Kyai lebih terlihat di Film ini pada Perang Melawan Sekutu di awal kemerdekaan, dengan munculnya Fatwa Jihad dari beliau. Fatwa “Resolusi Jihad” 22 Oktober 1945 adalah awal mula dari Perang Kota di Surabaya hingga meletus perang 10 November 1945 yang hari ini kita peringati dengan Hari Pahlawan. Dalam Film ini, digambarkan juga Bung Tomo dengan pidatonya yang berapi-api menyerukan perang pada 10 November 1945.
*Redaksi sangat berterima-kasih kepada Bapak Husny Mubarok Amir yang mau memberikan review film ini kepada www.punditfilm.com