Asal Serial: Korea Selatan
Bahasa: Korea
Tentang Dua Manusia yang Sama-sama Pandai Berbicara, tapi Tak Terbiasa Didengarkan
Ada orang yang hidupnya dipenuhi kata-kata, tapi tak pernah benar-benar mengucapkan isi hatinya. Ada pula orang yang hidupnya disorot jutaan mata, tapi merasa tak seorang pun benar-benar mendengarnya.
Di sanalah Joo Ho-jin yang di perankan oleh Kim Seon ho) dan Cha Mu hee yang diperankan oleh Go Youn jung bertemu.
Ho-jin adalah penerjemah. Profesi yang mengharuskannya memahami makna, konteks, nada, dan jeda. Ia tahu kapan sebuah kalimat perlu dilunakkan, kapan harus dipertegas, dan kapan lebih baik disampaikan dengan diam. Sepanjang hidupnya, Ho-jin terbiasa menjadi jembatan. Ia berdiri di tengah, menghubungkan satu bahasa dengan bahasa lain, satu manusia dengan dunia yang tak selalu ramah.
Mu-hee adalah selebritas. Wajahnya dikenal lintas negara, senyumnya akrab di layar kaca, dan namanya sering disebut dengan kekaguman. Ia pandai berbicara di depan kamera, pandai tertawa di waktu yang tepat, pandai terlihat kuat meski lelah. Dunia menganggapnya seseorang yang sudah punya segalanya.
Padahal, tidak ada yang benar-benar mengajarinya bagaimana caranya didengarkan.
Hubungan mereka dimulai secara profesional. Tanpa drama. Tanpa bunga. Tanpa perasaan yang diakui. Ho-jin hanya melakukan pekerjaannya: menerjemahkan kata-kata Mu hee ke dalam bahasa yang bisa diterima dunia. Ia mengubah kalimat, tapi tidak mengubah jarak. Ia memahami makna, tapi menjaga perasaan.
Namun ada satu hal yang tidak pernah diajarkan di sekolah penerjemahan : bagaimana menerjemahkan perasaan sendiri.
Ho-jin dan Seni Menyimpan Diri
Secara psikologis, Ho-jin adalah seseorang dengan avoidant attachment. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa perasaan adalah sesuatu yang rawan disalahpahami. Maka ia memilih aman: berpikir sebelum merasa, menganalisis sebelum mengakui.
Ia terbiasa menjadi orang yang dibutuhkan, bukan orang yang membutuhkan. Terbiasa hadir tanpa meminta ditemani. Terbiasa membantu tanpa berharap diselamatkan.
Bagi Ho-jin, mencintai berarti tidak merepotkan. Berada di sisi seseorang berarti menjaga jarak yang sopan. Menghargai orang lain berarti menahan diri sendiri. Ia tidak dingin. Ia hanya terlalu terlatih untuk menahan.
Masalahnya, cinta bukan proyek yang bisa dikendalikan dengan logika. Ia bukan kalimat yang bisa diterjemahkan sempurna. Ia sering kali gagap, berantakan, dan jujur secara tidak efisien. Dan di situlah Ho-jin selalu kalah.
Karena setiap kali perasaannya mulai muncul, refleks pertamanya bukan mendekat melainkan mundur.
Mu hee dan Rindu yang Tak Terucap
Mu hee, di sisi lain, memiliki anxious attachment yang tersembunyi di balik pesona. Ia tampak percaya diri, hangat, dan mudah didekati. Tapi jauh di dalam, ia menyimpan ketakutan sederhana: bagaimana jika aku ditinggalkan tanpa penjelasan?
Sejak lama, hidupnya dipenuhi suara orang lain. Pendapat publik. Harapan manajemen. Narasi media. Semua orang berbicara tentang dirinya, tapi jarang berbicara kepadanya. Ia tahu caranya membuat orang tertawa. Tapi ia tidak tahu bagaimana caranya meminta seseorang untuk tinggal.
Mu hee membutuhkan kejelasan, bukan karena ia manja, tapi karena ketidakpastian membuatnya merasa sendirian. Ia membaca perubahan kecil: jeda yang lebih lama, nada yang lebih datar, tatapan yang menghindar. Baginya, diam sering kali terdengar lebih keras daripada kata-kata.
Dan Ho jin adalah orang yang paling sering diam.
Ketika Dua Luka Bertemu
Hubungan mereka berkembang perlahan. Bukan lewat pengakuan cinta, tapi lewat kebiasaan kecil: duduk berdampingan, berbagi sunyi, saling memahami tanpa banyak tanya. Ho jin mulai menyadari bahwa Mu hee berbeda. Ia tidak hanya berbicara, ia merasa. Dan Mu hee mulai merasa bahwa Ho-jin melihatnya bukan sebagai bintang, tapi sebagai manusia.
Namun di sinilah konflik mereka bermula.
Setiap kali Mu hee mendekat, Ho-jin menarik diri. Setiap kali Ho jin diam, Mu hee merasa ditinggalkan. Ho jin mengira jarak adalah bentuk penghormatan. Mu hee mengira jarak adalah tanda tidak dicintai. Keduanya tidak salah.
Mereka hanya berbicara dalam bahasa luka yang berbeda.
Pertanyaan yang Menjadi Judul
Can This Love Be Translated? bukan hanya judul drama. Ia adalah pertanyaan eksistensial. Tentang apakah cinta harus selalu dijelaskan agar sah. Tentang apakah perasaan yang tidak diucapkan tetap bisa dipercaya.
Ho jin harus belajar bahwa perasaan tidak selalu butuh kalimat sempurna. Kadang, kejujuran yang terbata jauh lebih berarti dari pada diam yang rapi. Ia harus berani menjadi subjek, bukan hanya penerjemah.
Mu hee harus belajar bahwa tidak semua keheningan adalah penolakan. Bahwa ada orang yang mencintai dengan cara yang sunyi, bukan karena tidak peduli, tapi karena takut merusak.
Cinta mereka tidak menyembuhkan luka satu sama lain. Ia hanya memberi ruang aman agar luka itu bisa bernapas.
Tentang Kita yang Menonton
Mungkin drama ini terasa dekat karena kita pernah berada di posisi mereka. Pernah menjadi Ho jin yang ingin mencintai, tapi terlalu takut salah. Atau menjadi Mu hee yang memberi banyak, tapi takut tidak cukup.
Drama ini tidak menawarkan cinta yang meledak-ledak. Ia menawarkan sesuatu yang lebih jujur: hubungan yang canggung, salah paham, dan sering kali tidak sinkron. Tapi justru di situlah ia terasa nyata. Karena cinta jarang datang dengan terjemahan resmi. Ia sering hadir sebagai rasa yang harus dipelajari bersama.
Dan mungkin, cinta tidak perlu diterjemahkan dengan sempurna. Mungkin cukup dengan keberanian untuk tetap tinggal, meski tidak selalu saling mengerti.
Can This Love Be Translated? adalah drama yang rapi dan nyaman ditonton. Ceritanya mengangkat tema cinta dan miskomunikasi dengan cara yang ringan dan mudah dipahami. Alurnya pelan, visualnya enak dilihat, dan dialognya terasa natural. Drama ini cocok untuk ditonton santai tanpa perlu mikir terlalu berat.
Di sisi lain, drama ini juga terasa cukup aman. Konfliknya tidak terlalu tajam dan emosinya jarang meledak, jadi dampaknya ke penonton tidak terlalu dalam. Setelah tamat, kesannya ada, tapi tidak yang sampai susah dilupakan. Karena itu, Can This Loved be Translated? adalah serial drama yang oke dan layak ditonton, tapi belum istimewa.
Nilai: 7/10 Bintang
review oleh: Kholik Mawardi
Tayang: Netflix