Bukan Horor Biasa
Sinema Indonesia tak pernah lepas dari genre horor. Yusron Fuadi datang dengan aroma yang lebih segar lewat Setan Alas!. Mengusung horor dicampur fiksi ilmiah, ini produk yang jarang disentuh sineas horor lokal.
Premis cerita berangkat dari pola klasik teen horror. Sekelompok mahasiswa healing di rumah tua di tengah hutan. Awalnya mau happy happy, lantas muncul banyak pertanda seolah-olah sesuatu yang ganjil tengah menanti.
Misteri dimulai ketika salah satu dari anak muda ini tewas secara aneh. Timbul curiga di antara mereka. Situasi kian genting saat jagoan kita coba minggat dari sana, tetapi gagal. Balik lagi ke rumah itu, mereka dipaksa survived dari ancaman yang sulit dijelaskan.
Setan Alas! lahir dari kejenuhan Yusron pada pola horor lokal yang dirasa tipikal. Ia tergelitik untuk melakukan eksperimen dengan campuran aneka genre. Agaknya ia paham betul kemauan para sinefil.
Yusron jujurly mengaku terinspirasi dari film The Cabin in the Woods (2011). Lantas ia berikan sentuhan multiple twist yang bikin penonton mereka-reka. Tampak penulisan skenarionya sambil main-main, karena terasa betul betapa menyenangkan atmosfer film ini.
Hal menarik, cara bercerita Yusron bikin déjà vu pada Janji Joni (2005) karya Joko Anwar. Di sana Joko memaparkan teori tentang jenis penonton film. Nalurinya sebagai dosen menggiringnya melakoni hal serupa: mengupas teori dalam plotnya dengan mengupas mekanisme genre horor di balik layar. Wow, sama-sama film tentang film.
Tak hanya pendekatan genre yang tak biasa, sejumlah wajah baru juga hadir di sini macam Putri Anggi, Abraheem Abdulwahhab, Anastasia Herzigova, hingga Winner Wijaya. Mereka bermain lepas dalam format teen horror yang klise. Semua berkat suplai skenario yang kuat dan dikemas konyol.
Last but not least adalah kehadiran sineas Hanung Bramantyo yang ikutan jadi cameo. Namanya dimanfaatkan sebagai puncak kejenakaan elemen sinematik. Alhasil, ini horor komedi yang jarang ada dan patut dirayakan.
Nilai: 7.5/10 Bintang
review oleh: Bobby Batara