Potret Pendidikan di Pelosok Lewat Cerita Hangat dan Menghibur
Angkasa memilih menjadi relawan guru di Ollon, daerah pelosok yang terletak Tana Toraja. Pilihannya tersebut awalnya dilatari masalah pekerjaan, hubungan asmara, dan kehilangan sang Ibu. Dari gemerlap Jakarta, Angkasa merasakan daerah Ollon yang penuh dengan kekurangan.
Sekolah Kelas jauh yang menjadi tujuannya jauh dari kata layak. Fasilitas yang tak memadai untuk keberlanjutan pendidikan, dialami Angkasa saat melihat sekolah dan murid yang hanya enam bocah lucu namun semangat untuk belajar.
Jangankan untuk mengajar, keseharian Angkasa untuk standar dasar seperti penerangan dan komunikasi juga begitu memprihatinkan. Sinyal selular untuk komunikasi hanya terjangkau di satu titik gereja yang membuat lucu, hingga penerangan yang tak bisa beroperasi 24 jam.
Film Solata hadir dengan ringan, menarik, lucu, dan tak menggurui. Ringan karena tidak perlu rumit untuk menikmati perjalanan Angkasa dalam mengajar, serta segala bentuk kompleksitas infrastruktur pemerintah yang tak memadai.
Lucu dengan dialog-dialog yang membumi antara sosok Angkasa dengan masyarakat Ollon dan tentunya dialog dengan para murid-murid lucu yang mempunyai nama-nama mantan Presiden RI.
Tak menggurui penonton meski pesannya adalah sebuah tamparan terhadap para penguasa terkait ketimpangan pendidikan bagi mereka yang di pelosok, tertinggal, ataupun daerah terdalam Indonesia.
Mengambil fokus dengan budaya Toraja menjadi nilai lebih yang lain untuk film ini. Bagi masyarakat Toraja khusunya, film ini tentu menjadi kebanggaan dengan keindahan alam, lagu-lagu Toraja, serta budaya yang ditampilkan.
Secara keseluruhan ini adalah tontonan ringan tanpa menggurui terhadap pendidikan yang ada di Indonesia. Film ini juga tak melupakan sosok guru sebagai pahlawan tanpa jasa yang berjuang di daerah pedalaman.
Ichwan Persada sebagai sutradara dan juga penulis cerita, mampu menampilkan kisah ketimpangan pendidikan yang masih ada di Republik ini. Akting natural para bocah-bocah yang baru memulai akting terasa segar. Tak melupakan budaya nasional lewat Toraja.
Nilai: 7.5/10Â