Dari Kebencian yang Menjadi Empati
Kisah ini dimulai dari kota kecil Durham, Carolina Utara pada tahun 1971 ketika rasisme masih memuncak. Bahkan organisasi Klan yang anti kulit hitam masih legal berdiri untuk menyebarkan kebencian.
Ann Atwater adalah seorang kulit hitam aktivis hak-hak sipil yang berjuang untuk kesejahteraan komunitas kulit hitam. Sementara di sisi lain ada C.P. Ellis, seorang pemimpin Klan.
Konflik lalu memuncak ketika Ann dan CP musti dalam satu meja terkait rencana untuk penyatuan sekolah. Karena keduanya dari kubu yang bersebrangan, maka duduk bersama membahas selama 2 minggu terkait pengambilan suara yang menentukan.
Di satu sisi Ann berjuang untuk hak sejajar sebagai umat manusia dan warga negara, maka C.P. Ellis dengan kelompoknya berusaha agar kaum kulit hitam tak mendapatkan tempat untuk penyatuan sekolah kulit putih dan kulit hitam.
Namun, film ini coba mengambarkan bahwa berjalannya waktu, justru dari permusuhan dan tentunya sisi C.P. Ellis yang sangat rasis perlahan terbuka dialog dan mencoba membuka isi kepala C.P. Ellis bahwa tindakannya adalah salah.
Meski pada akhirnya film ini coba menceritakan sejarah bagaimana C.P. Ellis menjadi seorang yang mengambil keputusan berani dan membuat sebuah kisah luar biasa atas tindakannya untuk menolak rasisme.
Film ini mungkin tidak sekeras BlacKkKlansman atau seintens Detroit atau film-film lainnya yang mengisahkan peristiwa rasisme. Namun justru kekuatannya ada pada penceritaan yang lembut dan terlihat manusiawi. Terlebih film ini menunjukkan tentang dua orang yang berani membuka hati.
The Best of Enemies adalah drama sejarah yang menyentuh, menyorot bagaimana perubahan besar sering dimulai dari percakapan kecil serta keberanian untuk mengakui bahwa kita salah.
Meskipun seakan film ini terlalu mengambil langkah aman dalam menyederhanakan perjalanan kisah C.P. Ellis yang bagaimanapun adalah pimpinan Klan. Tentunya upayanya sebelum melakukan hal benar adalah seorang yang rasisme. Namun sekali lagi film ini sebuah film refleksi yang memberikan pesan untuk menolak kebencian dan rasisme.
Nilai: 7.5/10
review oleh: Jonathan Ricky