review oleh: Genta Perwira
Nilai: 8.5/10
Surealisme dan Represi Politik a la Kleber Mendonça Filho
“Aku lebih condong ke arah Komunis, daripada Kapitalis”
The Secret Agent menempatkan kisahnya di Brasil tahun 1970-an, masa ketika negeri itu berada di bawah kediktatoran militer yang keras: penghilangan paksa, penyiksaan, sensor total, dan pembatasan kebebasan akademik menjadi praktik rutin. Kampus diawasi, dosen dicurigai, mahasiswa dicap “subversif,” dan orang bisa hilang tanpa jejak. Dalam atmosfer inilah Kleber Mendonça Filho membangun sebuah thriller sunyi yang lebih terasa seperti dokumenter emosional ketimbang film spionase konvensional.
Plotnya mengikuti Marcelo, pria biasa yang samar antara aktivis, ayah, dan mungkin buronan, yang kembali ke Recife di tengah karnaval dan perlahan terseret jaringan intelijen negara. Bukan aksi James Bond atau Bourne, film ini bergerak pelan: pertemuan samar, arsip identitas, bisik-bisik di lorong apartemen yang menampung para pembangkang, dan ancaman pembunuh bayaran yang selalu terasa dekat. Ketegangan lahir dari ketidakpastian tentang siapa mengawasi siapa, dan kapan seseorang akan “menghilang.” Ritmenya sengaja menahan, seolah memaksa kita merasakan kecemasan sehari-hari hidup di bawah rezim.
Yang paling saya nikmati adalah bagaimana Filho benar-benar menenggelamkan film ini ke 1970-an. Desain produksi, warna kusam seluloid, musik Tropicália, mobil tua, hingga tekstur gambar yang seperti arsip lama membuat Recife terasa hidup, bukan sekadar latar, tapi memori kolektif. Pendekatan ini membuat sejarah hadir secara fisik, seakan kita menyentuh debu masa lalu di setiap sudut frame.
Performa Wagner Moura juga luar biasa. Ia bermain dengan intensitas yang tertahan, minim gestur, serta tatapan penuh waspada, menjadikan Marcelo sosok yang rapuh sekaligus misterius. Alih-alih heroik, ia terasa manusiawi, seseorang yang hanya ingin bertahan hidup sambil merawat sisa-sisa identitas keluarganya. Justru kesederhanaan itu yang membuat taruhannya terasa nyata.

Di tengah realisme politik, Filho menyelipkan surealisme khas Amerika Latin. Adegan “kaki berbulu menendang orang-orang di pantai” muncul seperti mimpi buruk kolektif yang ganjil, absurd, tapi menghantui, sebagai metafora kekuasaan tak terlihat yang bisa menghantam siapa saja. Campuran fakta sejarah dan imaji sureal ini membuat film terasa unik, keras sekaligus puitis, dokumenter sekaligus alegori.
Bagi saya, The Secret Agent adalah film yang amat sangat penting hari ini. Ia bukan hanya rekonstruksi masa lalu Brasil, melainkan peringatan tentang masa kini, ketika tren pemerintahan di berbagai negara makin condong ke kanan dan label “subversif” kembali mudah dilontarkan, ingatan tentang represi menjadi relevan lagi. Filho mengingatkan bahwa sejarah bisa terulang, dan sinema, dengan segala fiksinya, mungkin cara paling jujur untuk mencegah kita lupa. Sepertinya, para juri Academy Award pun setuju, hingga mengganjar film ini dengan empat nominasi, salah satunya adalah Best International Feature Film.