Kisah Epik dan Konyol Sang Buronan
Roofman diangkat dari kisah nyata Jeffrey Manchester. Kisahnya tidak se-glamor para kisah biopic kriminal layaknya mafia. Bahkan bisa terbilang amatir namun cerdas. Kisah ini yang nampaknya membuat rumah produksi mau menggarap ke layar lebar.
Jeffrey merupakan seorang bapak keluarga yang mengalami krisis finansial. Sial saja sebenarnya. Pekerjaan yang sepertinya sulit didapat sejak pengabdiannya sebagai militer. Beda dengan Indonesia, kalau di AS, banyak warga yang bergabung di militer dan perang namun hanya kontrak. Setelah itu kembali ke masyarakat menjadi sipil.
Kisah Jeffrey dimulai ketika pekerjaan sulit sementara dirinya sudah berpisah dengan sang istri dan anak kandungnya. Bahkan untuk membeli kado yang diingkan sang anak saat ulang tahun saja Jeffrey tak mampu.
Hingga akhirnya pilihan hidup Jeffrey mengambil langkah extreme nan konyol. Merampok gerai McDonald lewat atap dengan cerdas. Tak sekali, tapi puluhan kali. Hingga membuat dirinya mampu hidup layak. Namunnnnn….sampai Polisi menangkapnya karena hal tersebut.
Penjara menjadi rumah Jeffrey. Meski amatir, Jeffrey tethitung cerdas. Lewat suatu upaya cerdas meski sederhana, dirinya bisa lolos dari penjara dan menjadi buronan. Pilihannya untuk bertahan hidup juga unik. Bersembunyi di sebuah took mainan dan lagi-lagi lewat atap.
Dirinya dengan hati-hati bersembunyi di toko tersebut. Siang Jeffrey bersembunyi saat toko beroperasi. Malam Jeffrey menjadi penguasa ketika toko tutup. Konyolnya, setelah beberapa lama, Jeffrey memilih untuk keluar toko saat siang dan berinteraksi dengan komunitas gereja dan menjalin hubungan dengan perempuan.
Roofman bukanlah kisah bengis Jeffrey sebagai kriminal meskipun dirinya melakukan perampokan. Apapun yang dilakukan Jeffrey melanggar hukum dan merugikan orang lain. Namun film ini seakan memberikan gambaran, bahwa pilihannya tersebut karena tak ada opsi lain.
Dalam sebuah kalimat, Jeffrey mengatakan,”Aku tidak bersembunyi. Aku sedang bertahan hidup.” Sebuah kalimat yang memberikan gambaran bahwa apa yang dilakukan Jeffrey adalah langkah akhir (meski salah) dalam menghadapi kerasnya hidup.
Fokus film ini pada bagaimana kisah Jeffrey bersembunyi di toko mainan. Konyol, lucu, menyentuh, serta realita kehidupan coba digambarkan dalam skenario film.
Pondasi film ini bukanlah sebuah sinematografi atau kisah Jeffrey yang terlalu didramatisir.
Film ini hanya mencoba merekontruksi ke penonton kisah hidup Jeffrey yang unik, konyol, epik, serta nyeleneh. Jeffrey yang melakukan kriminal seakan menjadi tokoh yang pratogonis.
Secara keseluruhan, Roofman menjadi sebuah film yang menghibur (konyol dan membuat kita tertawa).
Namun juga sebuah kisah realita rakyat bawah yang mencoba bertahan hidup dengan jalan yang dipilihnya. Film ini justru lebih ke drama keluarga serta komedi dibandingkan aksi kriminal yang serius. Selamat menonton.
Nilai: 7.5/10 Bintang
review oleh: John Tirayoh
*saat ini tayang di Netflix
*sebagai keterangan film ini tidak tayang di bioskop Indonesia saat tahun 2025, dan baru masuk aplikasi streaming saat ini.