Semua (Belum) Akan Baik Baik Saja
Suasana rusun yang sumpek menjadi pembuka Semua Akan Baik-Baik Saja, film ketiga arahan Baim Wong. Setelah horor dan thriller, kali ini Baim membuat drama keluarga yang hangat dan emosional.
Baim tampil all out. Line up pemainnya berisi nama-nama peraih Piala Citra seperti Christine Hakim, Reza Rahadian, Raihaanun, Happy Salma, hingga Teuku Rifnu Wikana. Di belakang layar, ada nama besar seperti Yudi Datau di balik kamera dan Cesa David Lukmansyah pada editing gambar.
Menulis bareng Oka Aurora, Baim menyuguhkan cerita Langit – yang kerja serabutan dan tinggal di rusun- harus merawat anak kakaknya setelah meninggal mendadak. Terjadi konflik ketika sang ibu ingin menjual rumah keluarga demi menutup kebutuhan mereka. Namun menantunya Ilham, menghalangi dan, berusaha mengambil sertifikat rumah itu.
Film ini dibuat dengan niat baik. Ada upaya membicarakan luka, penerimaan, dan harapan dengan pendekatan yang intim. Tapi di balik itu, Semua Akan Baik-Baik Saja terjebak pada kecenderungan style over substance. Baim terlalu sibuk mengukir momen emosional ketimbang membangun cerita yang benar-benar utuh.
Banyak adegan terasa dirancang untuk menghasilkan letupan haru sesaat: musik menyayat, dialog sarat kalimat bijak, dan gambar intim yang menekan emosi. Masalahnya, narasinya sendiri tak cukup solid untuk menopang. Konflik hadir dan selesai tanpa proses matang. Sedangkan perkembangan karakter sering bergerak mengikuti kebutuhan pesan moral, bukan logika cerita.
Alhasil, ritme emosinya terasa lompat. Filmnya terlalu pede bahwa rasa sentimental dan ketulusan bisa menutupi kelemahan struktur dramatik. Semakin keras upayanya mengatakan bahwa “semua akan baik-baik saja”, semakin terasa proses menuju titik itu tak pernah tuntas benar. Solusi datang terlalu receh, konflik reda terlalu cepat, dan pesan moral kehilangan bobot emosional.
Pada akhirnya, film ini terlalu sibuk mengejar air mata sampai lupa bahwa inti drama adalah menciptakan make believe: membuat penonton percaya bahwa semua luka, konflik, dan solusi itu memang layak dirasakan.
6.5/10
review oleh: Bobby Batara