From Sailing To Saving
Selat Malaka pernah dikenal sebagai “zona rawan”, banyak banget perompak. Dari sana muncul gagasan film The Hostage’s Hero, kisah nyata aksi heroik TNI AL menumpas bajak laut pada 2004 silam. Ah, kebayang seru premisnya: misi penyelamatan sandera oleh personil militer kita.
Di balik layar, ada Revo Rurut -yang kolab bareng Dinas Sejarah TNI AL- langsung menulis dan membesut proyek film perang. Cukup berani sih. Maka wajar jika muncul rasa campur aduk: antara kepo dan ragu. Karena bikin film perang bukan perkara mudah.
Ceritanya fokus pada Letkol Taufiq (Donny Alamsyah), Komandan KRI Karel Satsuit Tubun. Ketika menerima info ada pembajakan kapal tanker, posisi kapalnya ada di dekat TKP. Kontan pak komandan gercep deh demi menyelamatkan nyawa puluhan sandera.
Masalahnya, film ini macam pengen “ngegas” di banyak arah. Di satu sisi mau tampil heroik dan penuh semangat nasionalisme, tapi di sisi lain dibuka dengan pengenalan karakter yang santai, bahkan kental sisipan humor dari Asri Welas dan Bang Tigor. Niatnya mungkin biar lebih cair, tapi hasilnya malah terasa nggak nempel. Ujungnya, emosi yang dibangun pun jadi kurang kena. Penonton seperti berjarak, nggak relate sama karakternya. Momen yang harusnya greget atau haru malah numpang lewat.
Penonton yang menunggu “golden scene”, tapi nggak pernah benar-benar dapet payoff. Padahal, sebagai film perang, ekspektasi penonton otomatis tinggi, terutama buat adegan aksi di laut.
Sejak awal udah kebayang, apa vibe-nya kayak aksi Steven Seagal di Under Siege tapi dalam kearifan lokal. Apalagi diback-up fasilitas negara kan harusnya oke. Sayangnya, itu nggak terjadi. Film berlalu tanpa klimaks, dramanya tipis, aksinya juga belum sampai. Ya, produksi film perang itu bukan cuma soal skala, tapi juga soal rasa. Bagaimana cara bikin penonton peduli dan ikut tegang dari awal sampai tamat.
Skor: 6.5
review oleh: Bobby Batara