Indonesia Mini Dalam Bui
Sineas kita saat ini punya rumus manjur: “relate” dengan situasi kekinian. Namun bagi Joko Anwar, pendekatan itu bukan hal baru. Ia sudah lama melakoninya, dan kini kembali hadir lewat proyek anyarnya, komedi horor Ghost in the Cell.
Sejak awal kariernya, Joko konsisten merekam keresahan sosial dalam film-filmnya. Skandal politik, misalnya, hadir dalam A Copy of My Mind (2015). Isu rasisme dan ketegangan sosial muncul dalam Pengepungan di Bukit Duri (2025). Bahkan gagasan yang lebih utopis, seperti penantian sosok ratu adil di tengah krisis, pernah dijelajahi dalam Kala (2007) dan Gundala (2019).
Ghost in the Cell mengisahkan kehidupan di penjara yang dihuni narapidana dari aneka latar belakang, potret yang terasa dekat dengan kondisi Indonesia. Di ruang sempit itu, mereka berhadapan dengan polah sipir yang zalim, menguak relasi kuasa yang timpang dan menyesakkan.
Sebagai komedi, isu itu dibungkus ringan, seenteng cuitan wacana politik ala SJW di medsos. Mulai dari korupsi, pembalakan hutan, apalah-apalah. Namun di situlah letak ironinya bekerja: tawa yang muncul berubah menjadi senyum pahit ketika dilontarkan para karakternya.
Bagian uniknya, ada adegan yang direkam bak pertunjukan teater, dengan teknik long take sungguh menuntut konsentrasi dan presisi tinggi. Pendekatan ini terasa mewah, sekaligus menjadi ajang pembuktian para wayang di bawah arahan sang dalang.
Pada akhirnya, Ghost in the Cell bekerja bukan karena apa yang diucapkan secara harfiah, melainkan dari keganjilan yang terasa akrab. Ada kuasa yang semena-mena di balik absurditas yang jenaka. Bahkan Ho Yuhang menyebut, peristiwa semacam ini terjadi juga di negaranya. Sebuah penegasan bahwa isu yang diangkat sifatnya universal, melampaui batas geografis. Le Cinéma Sans Frontières.
Skor: 8/10
review oleh: Bobby Batara