Antitesis Keluarga Cemara: Keluarga Buaya
Sinema kita punya gambaran keluarga ideal macam Keluarga Cemara. Hidup pas-pasan, namun hangat. Orang tua dan anak selalu harmonis dan penuh canda. Crocodile Tears justru ada di kutub seberangnya.
Film karya Tumpal Tampubolon ini mengulik relasi ibu-anak yang jauh dari kata sehat. Toxic banget. Marissa Anita jadi ibu tunggal yang protektif kepada anaknya, Johan (Yusuf Mahardika). Hidup mereka yang tenang di sebuah taman buaya mendadak oleng saat Arumi (Zulfa Maharani) masuk ke dalam hidup Johan. Ibu tak suka kehadiran sang gadis yang bikin tensinya semakin tinggi. Naluri melindungi anak bikin ia bertindak di luar akal sehat.
Siapakah Tumpal? Namanya dikenal di sirkel festival lewat film pendeknya yang personal. Film panjang ini menjadi debutnya dengan dibantu produser Mandy Marahimin. Mandy benar-benar melepas Tumpal dalam berkarya. Kebebasan untuk menuangkan visi sebagai auteur adalah barang langka.
Pernah dengar kan ulah produser Yoram yang mendikte penulis Bagus dalam Jatuh Cinta Seperti di Film-Film? Mandy tak begitu, Tumpal tinggal sabar menanti datangnya dana. Pokoknya ada.
Ya, gaya bertutur Tumpal tak lazim, bahkan liar. Ide besarnya simpel tapi ganjil, bagaimana induk buaya melindungi anaknya dengan cara ekstrem. Lantas ia membangun metafora tentang cinta orang tua yang bermutasi menjadi energi yang negatif.
Pendekatannya memang anti-mainstream: realisme magis. Gaya yang dipakai Teddy Soeriaatmadja dalam Banyu Biru. Tumpal mengajak kita masuk ke wilayah sadar dan alam tak sadar Johan. Suasana batinnya jadi ranah utama, tempat realitas dan fantasi bertubrukan, kadang tanpa batas yang jelas.
Memang Crocodile Tears bukan film yang memberi kenyamanan. Dengan sengaja ia mengusik dan bikin gelisah. Namun itulah nilai lebihnya: ketika banyak film sibuk menawarkan pelarian, Tumpal menunjukkan sisi gelap dari cinta keluarga. Alih-alih menyembuhkan, justru malah menghadirkan luka.
Skor: 7.5/10
review oleh: Bobby Batara