Rumah produksi RB 13 resmi merilis tampilan pertama (first look) dan sinopsis dari proyek film pendek terbaru mereka yang berjudul “Sebatang Kara”.
Mengusung genre drama sosial realis, film ini hadir sebagai sebuah refleksi tajam sekaligus kritik terhadap kebijakan-kebijakan di tingkat atas yang dirasa kian menjauh dari keberpihakan pada masyarakat kecil.
Melalui Sebatang Kara, RB 13 mencoba memotret sudut mati Jakarta yang penuh kontras. Film ini lahir dari keresahan nyata terhadap kondisi lingkungan sekitar, di mana janji-janji kesejahteraan kerap kali berbanding terbalik dengan realitas pahit yang harus dihadapi oleh masyarakat kelas bawah setiap harinya.
“Makin ke sini, banyak sekali kebijakan yang dirasa justru merugikan masyarakat kecil. Sebagai bagian yang hidup di lingkungan tersebut, saya ingin kita semua bisa lebih melek terhadap isu-isu sosial di tingkat bawah.” ungkap Rizki Kurnia Darmawan selaku sutradara film ini.
Ia juga menambahkan bahwa film ini diharapkan bisa menjadi pemantik bagi generasi muda. “Apalagi untuk anak-anak Gen Z yang mungkin masih ada rasa takut untuk membahas isu-isu seperti ini secara langsung. Melalui karya, kita bisa menyuarakan keresahan itu dengan cara yang kreatif dan mendalam.”
Sinopsis Sebatang Kara
Andre Jaenudin hidup sendirian di Jakarta sebagai pemulung, di tengah janji 21 juta lapangan pekerjaan yang terasa semakin jauh dari kenyataan. Saat kesepian dan kehilangan perlahan menghancurkannya, sebuah pertemuan di malam hari mengubah hidupnya selamanya.Secara penyajian, ‘Sebatang Kara’ akan dikemas dengan pendekatan drama sosial yang murni realis, namun dibalur dengan bumbu drama emosional yang kelam di akhir cerita—selaras dengan atmosfer sinopsisnya yang sunyi sekaligus mencekam.
Film pendek ini mempercayakan karakter utamanya kepada aktor Rizal Alfianto yang berperan sebagai Andre Jaenudin, serta aktor Mimi Miftah sebagai Inces Fifi. Pertemuan tak terduga antara Andre dan Fifi di malam hari yang awalnya menawarkan secercah harapan bagi kehidupan Andre, justru membawanya pada sebuah akhir yang tidak mengenakan.
Sumber: RB 13