Kombo Komedi Koas + KopetĀ
Sutradara Imam Darto kembali bikin genre komedi lewat proyek anyarnya Gudang Merica. Di sini ia campur dengan bumbu horor dan misteri yang berlatar dunia pendidikan profesi dokter di rumah sakit atau koas. Seru dong.
Cerita dibuka dengan empat mahasiswa yang akan menjalani masa koas di rumah sakit terpencil. Kondisinya terasa aneh: sepi, minim tenaga medis, dan nyaris tak ada aktivitas. Konflik mulai bergulir saat ada orang datang membawa pasien tanpa identitas. Tak lama kemudian si pasien meninggal. Anehnya jenazahnya juga lenyap.
Di titik ini, misteri mulai muncul. Darto menyodorkan pola whodunit ala Agatha Christie. Penonton diajak menebak siapa sosok misterius itu dan ada motif apa di belakangnya. Wow, bikin kepo deh. Apalagi dibungkus dengan latar dunia kedokteran yang jarang dikulik dalam film Indonesia.
Menariknya, Darto tak memakai komedian sebagai aktor utama. Nama Ardhito Pramono, Fatih Unru, Arla Ailani, dan Zulfa Maharani dipilih sebagai āpenggerak situasi absurdā, sedangkan energi komedinya diserahkan kepada komika Benedictus Siregar. Ada dinamika yang unik di sana.
Sayangnya, gagasan itu tak sepenuhnya dieksekusi mulus. Latar rumah sakit yang digambarkan justru terasa kosong dan artifisial, hanya ada satu suster senior, satpam Raden Ngabehi alias āngerjain kabehā dan dokter bengong. Alhasil rutinitas koas yang mestinya hectic jadi kurang hidup. Tak heran jika dari trailer saja sudah muncul pertanyaan soal minimnya riset terhadap dunia medis yang diangkat filmnya.
Ditambah lagi ketika misteri mulai mengalir, Darto justru tergoda masuk ke humor receh yang sedang tren: komedi kopet (bahasa Jawanya tai). Canda seputar tai dikemas jadi punchline, macam yang pernah dipakai di Agak Laen, Sekawan Limo, hingga Tiba-Tiba Setan. Sesekali lucu, tapi lama-lama kok menjijikkan.
Pada akhirnya, Gudang Merica cukup menghibur dan mampu menjaga ritme agar penonton betah mengikuti misterinya. Meski aspek koasnya kurang meyakinkan plus humor kopetnya bikin jengkel, film ini masih menyisakan kejutan yang out of the box.
Skor: 6.5/10
review oleh: Bobby Batara