Tiga Bersaudara Menguak Takdir
Ada filmmaker yang sekadar ingin berkarya. Bikin film dengan cerita dan pendekatan personal, soal penonton mengerti atau tidak itu beda lagi. Demikian prinsip Edwin dalam bekerja. Hajar dulu, urusan belakangan.
Pendekatan itu kembali tampak dalam Monster Pabrik Rambut. Ide awalnya datang dari Eka Kurniawan yang menulis naskah bareng Edwin. Premisnya simpel: apakah orang yang kurang tidur akibat lembur bisa berhalusinasi hingga melihat hantu? Maka lahirlah kisah drama keluarga dan horor ini.
Edwin dan Eka lalu mengambil referensi dari film dan komik era 1980-an. Jadilah wujud monster yang mengingatkan pada genderuwo. Menariknya, makhluk itu dibentuk lewat efek praktis, bukan CGI. Sebuah proses yang serius.
Cerita fokus pada tiga bersaudara: Putri (Rachel Amanda), Ida (Lutesha), dan Bona (Iqbaal Ramadhan). Mereka kehilangan ibunya yang meninggal akibat kelelahan bekerja di pabrik rambut milik Maryati (Didik Nini Thowok). Katanya sih bunuh diri, tapi Ida menolak percaya.
Demi mencari jawaban, Ida sengaja bekerja tanpa tidur selama berhari-hari. Ia yakin hanya dengan cara itu ia bisa melihat makhluk yang merenggut ibunya. Namun monster tersebut ternyata jauh lebih kuat dan malah menguasai Bona.
Sebagai film horor, film ini terasa beda dari tren horor Indonesia masa kini. Tak melulu jumpscare, Edwin menyodorkan horor fantasi klasik dicampur dengan body horror absurd. Pemakaian prostetik, miniatur, dan efek praktis membuat semestanya terasa lebih riil sekaligus ganjil.
Di balik kisah monster, tersimpan kritik atas eksploitasi buruh dan kapitalisme. Di beberapa bagian, isu itu justru terasa lebih mengerikan daripada makhluk gentayangan.
Sayangnya, ambisi besar tak diimbangi kejelasan narasi. Beberapa elemen penting, seperti kemampuan Bona meregenerasi anggota tubuhnya, hadir tanpa penjelasan memadai. Penonton akhirnya diminta menerima begitu saja aneka simbol dan keanehan itu.
Gagasannya menarik dan visualnya berani. Namun ketika simbol lebih menonjol daripada pengembangan cerita, film ini terasa lebih kuat sebagai kumpulan ide ketimbang sebuah narasi yang benar-benar utuh.
Skor: 6.5/10
review oleh: Bobby Batara