Film ini merupakan bagian dari Europe Screen Festival 2026
Ketika Seni Melintasi Batas Generasi dan Tradisi
Di balik genre komedi dan humornya, Les Baronnes berbicara tentang isu-isu serius seputar pengalaman perempuan dan pencarian makna hidup pada tahap kehidupan yang sering kali dianggap telah selesai.
Salah satu babak yang paling membekas adalah ketika seorang menteri harus menghadapi konsekuensi politik atas pernyataan misoginisnya. Dibandingkan jatuhnya komet, adegan tersebut terasa lebih seperti fiksi ilmiah.
Bagi kita yang menonton dari lingkungan politik dengan akuntabilitas publik yang lemah, peristiwa seorang pejabat dimintai pertanggungjawaban secara terbuka terasa lebih dekat dengan fantasi sinematik daripada kenyataan. Saya sepakat dengan para kurator Europe on Screen 2026 bahwa film ini sangat tepat menjadi film pembuka, khususnya di Indonesia.
Berjangkar pada kisah empat perempuan berusia 60-an tahun, Les Baronnes menyoroti sesuatu yang jarang dibahas dalam representasi lansia: hak untuk tetap memiliki mimpi, ambisi, dan hasrat. Para tokohnya mengalami kegelisahan, jatuh cinta, keraguan, serta keberanian yang biasanya dilekatkan ke masa muda. Film ini mempertanyakan asumsi sosial bahwa proses mencari jati diri otomatis terhenti ketika seseorang menua.
Tema tersebut mungkin relevan dengan masyarakat Eropa yang sedang menghadapi penuaan populasi. Di tengah tantangan ini, muncul berbagai kebijakan active ageing yang mendorong partisipasi sosial, keterlibatan komunitas, dan peningkatan kualitas hidup lansia. Namun, kebijakan saja tidak selalu mampu menghapus stigma.
Masyarakat lanjut usia, khususnya perempuan, masih sering menghadapi apa yang disebut sebagai invisibility, yaitu kecenderungan lingkungan sekitar untuk mengabaikan keberadaan, aspirasi, dan kontribusi mereka.
Saya kira fenomena ini tidak hanya terjadi di Eropa. Di banyak belahan dunia, perempuan masih menghadapi kesenjangan upah dan kesempatan berkiprah secara profesional akibat karier yang terputus oleh tanggung jawab pengasuhan atau membangun keluarga.
Karenanya, keteguhan Fatima mengajak gengnya mementaskan Hamlet karya Shakespeare di usia senja terasa sebagai bentuk perlawanan meraih otonomi dan martabat.
Pada akhirnya, Les Baronnes mengingatkan bahwa kita selalu memiliki kesempatan, betapapun terlambatnya, untuk mencintai, bermimpi, mengambil risiko, dan menjadi diri yang diingini seutuhnya. Ya, tiada waktu kadaluarsa, kecuali ajal. Dalam masyarakat yang masih sering mengukur nilai seseorang berdasarkan nilai produktivitas, pesan tersebut terasa sederhana sekaligus radikal.
review oleh: Sita