Romansa Klasik Dengan Thriller Mengaduk Emosi
Film horor komedi sudah biasa, bahkan belakangan menjadi tren setelah kesuksesan film “Agak Laen”. Tetapi film drama keluarga romantis yang dipadukan dengan thriller sejauh ini masih sangat langka di Indonesia. “Musuh dalam Selimut”, garapan Hadrah Daeng Ratu, boleh dibilang satu dari segelintir film yang mencoba memilih jalan yang sangat langka itu. Syukurnya Hadrah lumayan mulus memadukan drama romantis dan thriller.
Perpindahan dari romantis ke thriller menjadi sebuah kejutan yang sangat menarik bagi saya sebagai penonton. Ibarat naik kendaraan penonton tiba-tiba dikejutkan dengan belokan tajam. Sebelum belokan tajam, film sebenarnya sudah memberi petunjuk kepada penonton yang jeli bahwa ini bukan sepenuhnya film drama keluarga yang romantis. Petunjuk itu muncul di adegan awal, juga pada karakter Suzy yang obsesif. Petunjuk yang paling gamblang adalah ucapan atasan tokoh utama kepada tokoh utama: “Tanpa rahasia sebuah keluarga tak akan langgeng”.
Pada limabelas menit pertama penonton diperkenalkan kepada karakter sentral bernama Gadis (Yasmin Napper). Gadis seorang pekerja kantoran yang ayahnya ditahan karena kasus korupsi. Suatu hari Gadis dilecehkan atasannya. Untunglah dia diselamatkan oleh Dhika (Arbani Yasiz). Sejak itulah keduanya menjalin hubungan kekasih kemudian menikah dan menjadi keluarga yang bahagia, sampai akhirnya muncullah Suzy (Megan Domani), seorang tetangga yang merusak kebahagiaan keluarga kecil itu.
Sampai di sini penonton langsung bisa menebak Dhika bakal berselingkuh dengan Suzy. Kemudian perlahan alur film membawa penonton dalam ketegangan, menduga-duga bagaimana Suzy menggoda Dhika dan bagaimana mereka menyembunyikan perselingkuhan yang akhirnya terbongkar. Tepat pada saat itulah penonton terkecoh. Mula-mula alur cerita mengikuti tebakan penonton, Dhika berbohong kepada Gadis untuk menutupi perselingkuhannya dengan Suzy. Dituntun oleh perasaan curiga Gadis lantas menguntit Dhika. Adegan penguntitan ini berhasil memainkan emosi penonton antaraa tegang dan cemas.
“Musuh dalam Selimut’ tidak hanya menyajikan drama romantis dan thriller yang menarik tetapi juga dikemas dalam tone yang konsisten dan mendukung kisah. Sebagai penonton kita tidak terganggu oleh hal-hal teknis. Pergerakan alurnya pun mulus, meskipun terasa terlalu terburu-buru pada beberapa adegan yang mestinya bisa lebih diperjelas motif-motif tindakan karakter utama. Misal latar keluarga Gadis yang ayahnya ditahan karena korupsi.
Selain itu yang kurang digarap secara mendalam adalah karakter-karakternya. Latar belakang Gadis yang dalam perkenalan memakan waktu limabelas menitan, namun tidak membuat penonton dapat menangkap dengan utuh. Demikian juga Suzy dan Dhika. Sehingga memunculkan kesan mereka kurang menyatu dengan karakter yang diperankan. Gadis, sebagai protagonis yang menderita dan jadi korban kejahatan Suzy dan Dhika, kurang menyentuh hati penonton. Tidak membangkitkan empati penonton. Demikian pula Suzy, watak dan karakternya tidak mempunyai kualitas yang cukup untuk dibenci.
Terlepas dari persoalan pendalaman karakter, akting para pemain cukup membantu menjaga ritme film tetap hidup. Yasmin Napper menampilkan Gadis sebagai perempuan yang terus berusaha bertahan ketika kehidupan rumah tangganya mulai retak. Arbani Yasiz juga mampu memainkan sosok Dhika yang menyimpan banyak rahasia tanpa membuat karakternya tampak berlebihan. Namun perhatian penonton kemungkinan akan lebih banyak tertuju pada Megan Domani. Sebagai Suzy, ia tampil dengan aura misterius yang membuat kehadirannya sulit diabaikan. Sayangnya, karena latar belakang dan motivasi karakter tidak digali lebih jauh, ancaman yang semestinya muncul dari sosok Suzy tidak sepenuhnya terasa kuat. Padahal karakter inilah yang menjadi motor penggerak ketegangan cerita. Akibatnya, beberapa momen yang seharusnya memberikan dampak emosional atau kejutan besar hanya terasa sebagai bagian dari alur yang terus bergerak menuju akhir.
Secara keseluruhan “Musuh dalam Selimut” memberi sedikit kesegaran, memperkaya genre film Indonesia. Bagi Anda yang jenuh dengan komedi dan horor atau gabungan keduanya, film ini dapat menjadi tontonan alternatif.
Skor: 6.5/10
Review oleh: Aris Kurniawan