Komedi Cerdas tentang Mengatasi Kesulitan Ekonomi
Di tengah situasi ekonomi yang serbasulit nan menyesakkan, orang terpaksa harus pintar-pintar mengelola keuangan alias hemat atau ngirit dan bila perlu menjalankan gaya hidup frugal living, kalau ingin selamat dari kebangkrutan. Pengeluaran tidak boleh lebih besar dari pendapatan. Maka setiap membeli jasa dan barang kebutuhan harus betul-betul dipertimbangkan skala prioritasnya. Dihitung sejauh mana manfaat dan kegunaannya, diukur setara tidak dengan uang yang dikeluarkan. Jika tidak, sebaiknya tidak usah membelinya.
Itulah yang dilakukan keluarga Tony Sukaharta (Dwi Sasono) dalam film “Keluarga Super Irit” besutan Danial Rifki. Beruntungnya prinsip hidup hemat menjadi budaya seluruh anggota keluarga Tony, yaitu istrinya Linda Sukaharta (Widi Mulia), dan tiga anak mereka: Sally (Widuri Puteri Sasono), Billy (Dru Prawiro Sasono), dan si bungsu Kenny (Den Bagus Satrio Sasono). Linda menghitung betul setiap rupiah yang dibelanjakan dan terus mengasah keahlian tawar menawar di pasar. Sally dan Billy, walaupun sesekali protes dengan gaya hidup ngirit orangtua mereka, kakak beradik ini tetap mau mencari tambahan uang saku sendiri. Kenny yang tinggal di rumah saja, selalu siap membantu sang ibu membuat itung-itungan. Jangan tanya apa upaya yang dilakukan Tony untuk menghemat pengeluaran. Tony tak pernah makan di kantin, bahkan minum kopi pun mencari sisa-sisa kopi rekan kantornya. Tetapi mereka menjalani semua itu dengan bersahaja. Tidak mengeluh, apalagi berlaku bak orang paling menderita di dunia. Tidak sama sekali. Waktu mereka habis untuk mencari uang tambahan sembari menyiasati hidup.
Sialnya, meskipun sudah mengamalkan budaya hidup hemat namun perekonomian keluarga tetap susah. Bahkan tambah susah karena Tony, si kepala keluarga, di kantornya mengalami pemotongan gaji. Mau tak mau mereka harus lebih ngirit lagi. Meski pun demikian mereka terpaksa harus pindah ke rumah yang lebih kecil, yang lebih murah biaya sewanya.
Danial Rifki berhasil menghadirkan drama komedi yang segar, penuh pesan nan bijaksana tanpa perlu khotbah, tanpa butuh upaya mengharu-biru. Kesulitan hidup justru disikapi dengan komedi dan perhitungan yang matang. Bagi saya sebagai penonton, Danial Rifki sukses menampilkan sebuah keluarga yang punya kualitas untuk dicintai, diberi simpati, dan dikagumi secukupnya.
Bukan hanya Tony dan keluarganya, para pemain pendukung seperti Onadio Leonardo sebagai Cipto, Coki Pardede sebagai Ojak, Indro sebagai Kakek Hanz, Mandra sebagai engkong juragan kontrakan. Mereka semua bermain dengan porsi yang pas. Tidak berlebihan melakukan improvisasi. Terutama Indro yang biasanya berlebihan, dalam film ini sisa personel Warkop ini bermain apik. Ada sih beberapa adegan yang agak berlebihan, semisal tawar menawar saat Linda belanja di pasar, juga ketika Kakek Hans menjual kembali semangkok bakso yang dibelinya demi mendapatkan margin. Tetapi percayalah itu semua tidak terlalu mengganggu karena didesain tanpa hasrat menggebu buat melucu.
Sebagai penonton saya menikmati sekali film ini. Alurnya enak diikuti. Akting pemain mulus memainkan karakter masing-masing. Widi Mulia menampilkan sosok ibu yang tegar, kuat, tanpa perlu terlalu serius. Kekurangan kecil film ini adalah make up dan tata busana yang terlihat kurang sesuai dengan kesulitan ekonomi mereka. Wajah Widi Mulia dan Widuri Putri selalu terlihat mulus dan terlalu cantik, bahkan saat mereka bangun tidur dan mencuci di dapur.
Skor: 7.5/10 Bintang
review oleh: Aris Kurniawan