Sang Uskup di tengah Perjuangan Kemerdekaan RI
Film dibuka dengan aktvitas Uskup Soegija sehari-hari. Soegija memberi khotbah, meladeni pengaduan umat yang mengalami kesusahan.
Umat Soegija tentu saja bukan hanya warga lokal Hindia Belanda yang merana hidup dalam tekanan kemiskinan dan penjajah, melainkan juga warga pendatang dari Eropa yang bisa dengan takzim menyimak khotbah sang uskup lokal.
Film ini menghadirkan berbagai karakter seperti Mariyem, Ling-Ling, dan Koester Toegiminyang mengalami dampak perang secara langsung, serta bagaimana mereka berjuang untuk bertahan hidup.
Garin Nugroho menuturkan kisah Uskup Albertus Soegijapranata, selama periode penting antara tahun 1940 hingga 1949, yang meliputi masa akhir penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, dan awal kemerdekaan Indonesia.
Film Soegija tidak hanya menampilkan sejarah perjuangan kemerdekaan, tetapi juga mengangkat nilai-nilai kemanusiaan yang universal, menekankan pentingnya solidaritas, kepedulian, dan semangat persatuan di tengah kecamuk konflik.
Garin menggambarkan kedekatan antara Soegija dengan umat, juga para petinggi Katolik dan upayanya mendaya-gunakan posisinya sebagai uskup untuk membela negaranya.
Soegija digambarkan secara wajar, seseorang yang rendah hati. Garin sebagai sutradara menampilkan Uskup Soegija sebagai seorang pembela masyarakatnya yang menderita karena dalam kondisi perang.
Secara keseluruhan Garin Nugroho memberikan gambaran sosok Sang Uskup yang tetap mengayomi umat di tengah perang kemerdekaan.Biopik Soegija mengisahkan upaya kemanuasiaan yang dilakukan olehnya sebagai seorang Uskup.
Skor: 8/10 BINTANG
review oleh: Aris Kurniawan