Drama Lintas Budaya yang Menghangatkan Dada
“Komang”, satu lagi film drama romantis yang diangkat dari kisah sejati perjalanan dua insan yang memperjuangkan cinta mereka. Kali ini dua insan yang dimaksud adalah Raim Laode, seorang penulis lagu, penyanyi, dan terutama komika kenamaan dari Buton, Sulawesi Tenggara, dan pasangannya, gadis Bali bernama Komang.
Saat diputar di bioskop pada libur Lebaran 2025, film garapan perempuan sutradara Naya Anindita ini sukses meraih tiga juta lebih penonton. Angka ini sejujurnya bagi saya agak mengejutkan. Namun setelah menontonnya saya maklum. Saya dibuat paham kenapa film ini mendapat antusiasme yang luar biasa. Menurut saya itu adalah apresiasi yang pantas diberikan kepada film ini. “Komang” memenuhi syarat sebagai film drama romantis plus komedi yang menyentuh hati penonton, terutama anak-anak muda. Hampir di seluruh elemen film ini solid.
Meskipun dari sisi cerita tidak istimewa, ditambah tempo yang lambat di beberapa bagian yang mestinya cepat dan sebaliknya, tetapi alurnya tetap nyaman dinikmati. Film dibuka dengan adegan Komang kecil dan kakaknya berjalan menuju pantai untuk beribadah di pura kecil di dekat pantai. Di pantai yang sama terlihat Raim Laode kecil juga bersama kakaknya Boy. Dari adegan ini penonton dikenalkan bahwa Raim Laode yang diperankan oleh Kiesha Alvaro dan Komang yang dimainkan oleh Aurora Ribero memiliki latar budaya yang berbeda. Raim dari keluarga keturunan Sultan Buton yang muslim, sementara Komang dari keluarga yang taat menjalankan ibadah di pura. Perbedaan ini yang menjadi rintangan berat saat mereka saling jatuh cinta dan berpacaran.
Rintangan itu makin bertambah berat saat Raim harus ke Jakarta demi mengejar mimpinya menjadi penyanyi dan pelawak tunggal. Kehadiran Arya (Adzando Davema) yang mengejar cinta Komang serta Ibu Komang (Ayu Laksmi) yang tidak merestui hubungan beda tradisi keagamaan antara Komang dan Raim, menjadi rintangan lainnya yang tidak ringan. Bagaimana proses perjuangan sejoli ini mengatasi semua rintangan, inilah yang menjadi tumpuan alur film ini. Naya Anindita berhasil menghadirkan rangkaian adegan dari babak ke babak yang memikat.
Sisi menarik lain dari film ini adalah elemen lokalitas, yaitu Buton, yang tergali dengan apik. Tidak hanya melalui gambar-gambar keindahan pantai dan destinasi wisata di daerah ini, tapi juga tentang kerukunan masyarakat yang memiliki perbedaan tradisi keagamaan. Naya menampilkan konflik dengan pendekatan yang lebih hangat dan membumi. Sutradara meramu perjumpaan, perbedaan, dan perjuangan Raim dan Komang menjadi potret tentang bagaimana cinta diuji oleh tradisi, keluarga, serta pilihan hidup. Penonton disuguhi suasana yang intim, dialog yang terasa alami, dan emosi yang mengalir tanpa dipaksakan,
“Komang” menurut saya berhasil menghadirkan pengalaman menonton yang menyentuh hati. Alih-alih mengejar melodrama, film ini memilih bertutur dengan kelembutan, sehingga setiap momen terasa dekat dengan realitas kehidupan banyak orang. Ditambah lagu-lagu yang menghiasi film ini hadir dalam porsi yang cukup dan memperkuat atmosfer yang dibangun. Akting Kiesha dan Aurora sebagai sejoli juga menarik. Aksen Aurora sebagai gadis Bali dan logat bicara Kiesha sebagai orang Buton cukup meyakinkan. Interaksi keduanya tidak berlebihan. Pesan kerukunan antarumat beragama juga tersampaikan dengan mulus tanpa kesan terlalu menggurui. Namun tentu saja bagi umat Hindu Bali beberapa adegan dalam film agak kurang nyaman.
Skor: 7/10 Bintang
review oleh: Aris Kurniawan