Ketika Nolan Berhasil Menaklukan Mitologi Yunani
Homer adalah sosok penyair legendaris dari jaman Yunani kuno. Karyanya yang paling epik adalah dongeng rakyat Yunani berjudul Iliad dan The Odyssey. Maha Karya sastra yang berkisah Yunani pada akhir jaman perunggu kuno.
Iliad mengisahkan perang Troya, perang besar penguasa Yunani yang dipimpin oleh Raja Agamemnon melawan Penguasa Troya. Tembok yang tinggi tak berhasil membuat Yunani menang. Hingga akhirnya sebuah rencana lewat pasukan yang menyusup dari kuda berhasil membuat Troya kalah dari Yunani.
Sementara The Odyssey mengisahkan kepulangan Raja Ithaca yang dipimpin oleh Odysseus setelah 10 tahun berperang di Troya. Odysseus penguasa Ithaca selama ini masuk dalam kekuasaan Agamemnon yang menguasai Yunani. Sehingga keberpihakannya saat perang Troya di kubu Agamemnon.
Perang berakhir, Odyesseus bersama sisa pasukannya mengarungi laut untuk kembali ke Itacha. Namun, perjalanan pulang ternyata tak semudah yang dipikirkan. Perjalanan tersebut memakan waktu selama 10 tahun.
Perjalanan 10 tahun tersebut yang menjadi kisah utama dalam film besutan Christopher Nolan ini. Di Ithaca, absennya Odysseus membuat para pelamar ingin menggunakan segala cara untuk merebut tahta kekuasaan. Ratu Penelope bersama Telemachus sang anak melihat ancaman kudeta. Sementara Odysseus praktis 20 tahun belum kembali.

Ketegangan, peperangan, putus-asa hadir dalam perjalanan Odysseus agar sampai kembali ke Ithaca. Sementara intrik, keserakahan, kesetiaan, persahabatan serta cinta-kasih ditunjukan dalam setiap adegan di Ithaca yang melibatkan Ratu Penelope, Telemachus sang anak, serta para pelamar.
Film The Odyssey besutan Christopher Nolan berusaha detil untuk visualisasi adaptasi kisah dari Penyair Homer. Di balik lapisan kehadiran Monster, Dewa, penyihir, peperangan jaman perunggu, semua ditampilkan epik selama durasi hampir 3 jam.
Flash-back yang ditampilkan Christopher Nolan justru tidak membingungkan dan malah membuat alur cerita mudah untuk dipahami bagi yang belum pernah membaca kisah dari The Odyssey karya Homer.
Meski tidak tampil kolosal megah seperti dalam film Troy (2006), namun the Odyssey justru menampilkan mitologi dalam bentuk visualisasi yang menakjubkan. Kehadiran Cyclops sang monster, Circe Sang Penyihir yang mematikan, Laut yang ganas, adegan peperangan kolosal, hingga visualisasi tanah para arwah yang gentayangan.
Menariknya, sebagai kisah penghubung antara Iliad dan The Odyssey karya Homer, Christopher Nolan mencoba menggambarkan detik-detik menegangkan saat berusaha membobol Benteng/Gerbang Troya yang selama ini mustahil ditembus.
Kejatuhan Troya digambarkan justru pada psikologi para penakluknya (termasuk Odysseus dan bala tentaranya) meskipun mereka berhasil memenangkan pertempuran Troya. Psikologi Odyesseus dan bala tentaranya selama menempuh jalan pulang menggambarkan trauma mendalam pasca perang.

Sebagai kisah dongeng rakyat (Yunani) atau sebagai kisah mitologi, film ini tampil memukau dan berani. Memukau dari sisi sinematografi yang apik untuk menggambarkan kisah dongeng rakyat. Berani karena tak hanya adegan drama dan perang, namun juga menyajikan nuansa horor yang tersaji dalam beberapa adegan.
Matt Damon yang memerankan Odysseus tampil total dan menggambarkan rasa traumatik pasca perang Troya dan juga jiwa kepemimpinannya dari awal hingga akhir film. Begitu juga akting aktor lainnya seperti Anne Hathaway, Tom Holland, John Leguizamo, Himesh Patel, Charlize Theron, Jon Bernthal hingga Robert Pattinson.
Secara keseluruhan Christopher Nolan yang sangat minim menggunakan CGI dalam film ini, berhasil membuat film yang memukau, epik, elegan, serta memuaskan dalam menciptakan dunia The Odyssey tanpa cela. Film ini mungkin menjadi karya paling monumental dari perjalanan penyutradaraan Nolan sejauh ini.
Selama 2 Jam 52 Menit durasi film ini seakan kita dibuat masuk ke dalam dunia The Odyssey karya Homer. Nolan yang juga menulis skenario film ini seakan menjadikan Film The Odyssey adalah pelampiasan pembuktian dirinya ketika gagal menyturadarai Troy pada tahun 2004 silam lalu.
Skor: 9/10 Bintang
review oleh: John Tirayoh