Menjual Romantisme Yogyakarta dan Cinta yang Irasional
Yogyakarta selalu punya cara untuk memikat siapa pun yang berkunjung ke sana. Kota ini bukan hanya menawarkan pesona alam yang menenangkan, tetapi juga menyimpan kekayaan budaya dan jejak sejarah yang hidup di setiap sudutnya. Keraton, candi, kampung-kampung seni, hingga tradisi yang terus lestari menjadikan Yogyakarta memiliki karakter yang khas dan sulit ditemukan di daerah lain. Tak mengherankan kota ini memiliki tempat tersendiri yang begitu istimewa di hati masyarakat Indonesia.
Kekayaan suasana dan identitas itulah yang membuat Yogyakarta berulang kali dipilih sebagai lokasi syuting sekaligus latar cerita berbagai film Indonesia. Film-film seperti “Ada Apa dengan Cinta? 2” (2016), “Kulari ke Pantai” (2018), “Bumi Manusia” (2019), hingga “Losmen Bu Broto” (2021) memanfaatkan pesona Yogyakarta dan sekitarnya untuk memperkuat atmosfer kisah yang disampaikan. Bagi para sineas, Yogyakarta bukan sekadar menawarkan panorama yang indah, melainkan juga ruang yang kaya akan nilai budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat. Karena itu, kota ini kerap hadir bukan hanya sebagai latar visual, tetapi sebagai “tokoh” yang ikut membangun emosi, konflik, dan makna dalam sebuah film.
Kali ini film yang mengambil Yogyakarta sebagai lokasi adalah “Sadali” garapan Kuntz Agus. Lewat film yang diangkat dari novel karya Pidi Baiq ini, Kuntz mengeksplor Yogyakarta sebagai latar kisah asmara tokoh-tokohnya. Sadali (Ajil Ditto) kembali ke Yogyakarta untuk mencari Mera (Adinia Wirasti), perempuan yang secara usia jauh lebih matang. Dalam film sebelumnya “Hidup Ini Lebih Banyak Kamu” (2024), dikisahkan Sadali menghadapi dilema saat dirinya mulai dekat dengan Mera, pada masa kuliahnya di Yogyakarta, mengingat dia telah bertunangan dengan Arnaza, seorang gadis di kampungnya, di Sumatra Barat.
Dalam film lanjutannya ini, Arnaza telah menikah dengan seorang lelaki yang baik dan sangat mencintainya tapi selalu disibukkan dengan pekerjaannya sehingga kurang memberi perhatian kepada Arnaza. Sementara itu, setelah membatalkan pernikahan dengan Arnaza, Sadali kembali mencari Mera di Yogyakarta. Pada saat yang sama Arnaza bersama suaminya pergi plesiran ke kota yang sama. Tanpa sepengetahuan suaminya Arnaza diam-diam menghubungi Sadali guna menyelesaikan permasalah mereka yang rupanya belum tuntas bagi keduanya.
Kini Sadali telah menjadi seoang pelukis yang karya-karyanya selalu ditunggu oleh galeri dan para kolektor lukisan. Namun rasa kehilangan Mera rupanya mengganggu produktivitasnya dalam berkarya, saat dia memaksakan diri, hasil lukisannya buruk. Upaya pencarian Sadali menemukan Mera inilah yang menggerakkan alur cerita film ini dengan mengeksplorasi romantisme Yogyakarta. Lewat pencarian Mera pula film ini hendak melestarikan mitos tentang cinta yang irasional. Bahwa orang rela mengambil risiko apa pun atas nama cinta. Termasuk risiko menghambur-hamburkan waktu demi mengejar cinta seorang janda yang menolaknya serta mempertaruhkan profesinya sebagai pelukis.
Film ini berhasil mengeksplorasi Yogyakarta, namun Yogyakarta yang romantik. Bukan Yogyakarta yang realistis, yang UMR-nya salah satu yang paling rendah di Indonesia. Maka yang hadir di film ini adalah galeri-galeri seni, kafe-kafe yang asyik buat bersantai, untuk diskusi tentang karya seni. Di tengah hidupnya yang sudah nyaman sebagai seniman yang lukisannya laku, Sadali justru digelisahkan oleh perasaan cita dan egonya. Bukan gelisah dengan banyaknya anak-anak putus sekolah, atau mahasiswa yang pontang-pontang mencari beasiswa guna mempertahankan kuliahnya. Dengan raut muka Sadali yang selalu terlihat sendu, dan tempo yang lamban serta alur yang longgar, film ini berpotensi membuat ngantuk penonton.
Skor: 6/10 Bintang
review oleh: Aris Kurniawan