Dilema Moral Seorang Komandan PBB
Genosida Rwanda pada tahun 1994 adalah sejarah gelap untuk Bangsa Rwanda. Dalam waktu seratus hari, sekitar 800.000 jiwa tewas. Korban adalah etnis Tutsi dan Hutu moderat dibantai dalam salah satu genosida paling kejam di abad ke-20.
Di tengah kekacauan itu, sebenarnya ada pasukan PBB pimpinan Letnan Jenderal Roméo Dallaire (UNAMIR). Dirinya berdiri di garis depan dengan misi menjaga perdamaian.
Namun, ketika etnis Hutu berhasil mengambil alih kekuasaan dan melakukan genosida, PBB tak bisa berbuat banyak. Tanpa senjata yang memadai, tanpa pasukan tambahan, dan tanpa dukungan serius dari dunia internasional.
Dallaire terjebak di antara kewajiban moral untuk menyelamatkan nyawa dan kenyataan pahit bahwa ia tak memiliki kekuatan untuk menghentikan gelombang pembantaian yang tak terkendali.
Film Shake Hands with the Devil bukan hanya tentang perang dan politik, tetapi tentang luka batin seorang pemimpin yang dipaksa menyaksikan tragedi kemanusiaan terbesar di hadapannya—dan rasa bersalah yang akan menghantuinya seumur hidup.
Shake Hands with the Devil bukan sekadar film perang atau politik. Ini adalah potret keputusasaan seorang pemimpin yang berdiri sendirian di tengah neraka dunia.
Letjen Roméo Dallaire, dengan seragam biru PBB dan hati seorang prajurit, dipaksa menyaksikan mimpi buruk bernama Genosida Rwanda.
Film ini menyayat hati karena menghadirkan dilema yang manusiawi. Seorang komandan yang memiliki tekad menyelamatkan nyawa, namun terikat tangan oleh birokrasi dan politik global.
Lebih dari sekadar rekonstruksi sejarah. Film ini adalah pengingat bahwa kegagalan dunia menghentikan genosida bukan hanya tragedi Rwanda, tetapi tragedi seluruh umat manusia. Film ini memaksa kita bertanya: berapa banyak nyawa harus hilang sebelum dunia bergerak?
SKOR: 7.5/10
Ulasan film oleh: John Tirayoh