Jurnalis Vs Predator
Fenomena predator seksual terhadap anak memang sungguh memprihatinkan. Tak hanya di luar sana, di sekitar kita pun kerap terjadi. Fakta ini menjadi pijakan sineas Umay Shahab ketika membuat film Memburu Pemangsa.
Umay mengemas ceritanya lewat sosok empat jurnalis perempuan (dimainkan dengan baik oleh Laura Basuki, Prilly Latuconsina, Yasamin Jasem, dan Taskya Namya). Biasa bekerja di desk politik, kini mereka meliput pembunuhan berantai dengan korban anak-anak. Kasusnya acak, namun temuan itu menunjukkan pola yang mengarah pada pelakunya.
Di proyek barunya Umay coba keluar dari zona nyaman. Sebelumnya ia kerap menggarap drama seputar trauma, kesehatan mental, hingga problem khas anak muda. Dalam Memburu Pemangsa ia mencicipi genre horor, kriminal, dan laga.
Secara visual, filmnya cukup kuat. Set yang grande mengantar atmosfer yang bikin merinding. Adegan gorenya pun brutal, lengkap dengan darah dan luka korban. Peran Teuku Rifnu Wikana terasa sentral sebagai spesialis antagonis dan mulai identik dengan dirinya.
Adegan laganya bertenaga, koreonya mengingatkan pada The Raid hingga The Shadow Strays. Bukan kebetulan, penata kelahinya, Muhammad Irfan, adalah alumni stunt dari film-film tersebut. Hasilnya meyakinkan, meski beberapa adegan terasa sekadar seru-seruan.
Masalah muncul ketika filmnya menjodohkan investigasi kriminal dengan horor dan demonologi. Dua dunia yang menarik, namun tak selalu menyatu. Kasus pembunuhan anak berasal dari realitas berhadapan dengan elemen gaib.
Pertanyaannya: apakah unsur mistis memperkuat investigasi atau justru mengurangi kengerian yang sejak awal sudah jelas? Sang predator kan sudah cukup menakutkan tanpa harus menghadirkan iblis.
Keberanian Umay mencoba banyak genre patut dipuji. Namun, ketika masuk ke wilayah gaib, tuntutan untuk menjaga logika cerita semakin kuat.
Film ini punya visual apik, gore yang berani, laga bertenaga, dan solidnya akting pemain. Masalahnya, investigasi jurnalistik dan hal mistis belum benar-benar berbaur. Umay sudah berani mencoba banyak hal, tetapi semuanya belum menyatu menjadi cerita yang utuh.
Skor: 7.5/10 Bintang
review oleh: Bobby Batara