Kisah Lugas Membongkar Teknik Interogasi CIA
Sebagai gambaran, bahwa setelah terjadinya peristiwa 9/11, maka Pemerintah AS dengan segala untuk menangkap organisasi pelaku penabrakan aksi bunuh diri di World Trade Center. Al-Qaeda pimpinan Osama Bin Laden dianggap bertanggung-jawab terhadap serangan tersebut.
Setelah itu, sejarah membuktikan bahwa AS menyerang Afghanistan yang dipimpin oleh Taliban dianggap melindungi Osama Bin Laden dengan Al-Qaeda. Kekuatan militer AS tentunya tak bisa ditandingi oleh Afghanistan dan Al-Qaeda. Dalam waktu cepat maka Taliban tumbang dan Al-Qaeda tercerai-berai
Persoalannya, pemerintah AS tentu mengejar siapa saja pucuk pimpinan Al-Qaeda. Tentunya adalah Osama Bin Laden dan petinggi lainnya. pada peretengahan tahun 2002, AS berhasil mendapatkan/menangkap salah-satu (yang dianggap) petinggi Al-Qaeda bernama Ali Zubaydah. Bagi AS, ini adalah penangkapan penting untuk menuju titik terang menangkap yang lainnya.
Pada awalnya Abu Zubaydah ditahan oleh FBI yang dipimpin oleh Ali Soufan. Nama terakhir adalah petugas FBI yang ditugaskan untuk melakukan interogasi terhadap Abu Zubaydah. Ali Soufan memiliki kelebihan tersendiri. Dirinya seorang etnis Arab yang mampu berbahasa Arab dan juga memiliki pendekatan muslim karena agamanya. Interogasi yang efektif berhasil dilakukan oleh Ali Soufan. Semua informasi sejauh ini didapatkan oleh Ali Soufan dan tim FBI yang bertugas.
Namun situasi menjadi rumit ketika CIA (Badan Intelejen AS) mengambil alih interogasi. Seorang kontraktor bernama James Mitchell dipercaya CIA bahwa metode interogasinya mampu memberikan hal lebih untuk mengorek informasi. Teknik yang dipakai dinamakan Enhanced Interrogation Techniques (EITs).
Dari EITs itulah diketahui teknik melecehkan, memutar musik kencang agar tahanan tak tertidur, mengurung di peti sempit, hingga yang terkenal adalah teknik water boarding. Alih-alih efektif, teknik ini hanya menyiksa tahanan dan membuat tahanan akan mengatakan apa-saja agar siksaan berakhir.
James Mitchell mengembangkan metode interogasi berdasarkan dari program pelatihan SERE (Survival, Evasion, Resistence, and Escape). Berdasarkan SERE, teknik penyiksaan interogasi dimasukan dalam EITs.
Menariknya penjelasan dalam dokumenter ini bahwa program SERE adalah bagaimana melatih para serdadu AS agar saat tertangkap mampu bertahan dari penyiksaan hingga dapat bertahan sebagai tahanan. Bertolak belakang sebenarnya apabila di adopsi ke teknik yang justru melakukan interogasi.
Dokumenter ini telak menelanjangi apa yang telah dilakukan CIA adalah blunder besar dalam upaya mencapai target menangkap pelaku 9/11. Blunder bahwa interogasi justru tak berhasil dan yang telak adalah CIA menjadi pihak antagonis dalam melakukan interogasi. Karena hal tersebut akhirnya dibuka publik hingga berlanjut pada insiden dan penyiksaan di penjara Abu Ghraib pada invasi AS ke Irak di tahun 2004.
Menjadi kelebihan dokumenter ini adalah kesaksian Ali Soufan petugas FBI yang membuka dengan jelas kronologi dari kejadian interogasi yang dilakukannya terhadap Ali Zubaydah hingga menyaksikan teknik interogasi CIA yang dipimpin James Mitchell yang penuh penyiksaan.
Menjadi kuat adalah kesaksian di dokumenter ini yang diberikan oleh Daniel Jones seorang staf senior untuk Komite Intelejen AS. Daniel Jones mungkin dalam dokumenter ini hanyalah terlihat sebagai nara-sumber yang menguatkan mengenai teknik penyiksaan CIA kepada tahanan. Tetapi sebenarnya Daniel Jones adalah seorang yang berani mengungkap laporan 6700 halaman terkait metode penyiksaan tersebut. Sebagai informasi, Daniel Jones mengerjakannya selama 5-6 tahun dengan gigih dengan segala tantangannya dan intrik politik.
Tak hanya dari kaca-mata Ali Soufan dan Daniel Jones, dokumenter ini berhasil melakukan wawancara dari sisi James Mitchell yang merupakan otak dari pembuat teknik interogasi EITs yang penuh penyiksaan. Dalam wawancara James Mitchell tak memperlihatkan rasa bersalah dan bersikeras bahwa metode interogasi-nya berhasil.
Secara keseluruhan dokumenter ini mampu mengungkap program penyiksaan CIA terhadap tahanan pasca 9/11 secara lugas, blak-blakan, dan juga runut agar penonton mudah dan mengerti siapa saja pihak yang paling bertanggung-jawab terhadap program penyiksaan. Dokumenter ini berhasil menghadirkan nara-sumber yang tepat dalam mengungkap premis penting dari dokumenter ini.
Skor: 8/10 Bintang
review oleh: John Tirayoh