Laki-Laki yang Ingin Selalu Terlihat Kuat
Pasangan yang kita kasihi tak mau melihat kita menderita. Demi menghindari hal tersebut kita kadang melakukan hal-hal di luar nalar. Itulah yang dilakukan Arga (Vino G Bastian), seorang ayah dan seorang suami yang hampir sempurna: tampan, berkecukupan, dan karier yang menjanjikan.
Suatu hari Arga divonis terserang penyakit langka yang disebut ALS adalah penyakit degeneratif saraf sistemik (neurodegenerative disease) yang menyerang sel-sel saraf motorik di otak dan sumsum tulang belakang . Penyakit ini secara perlahan melemahkan dan merusak fungsi otot, sehingga penderitanya kehilangan kemampuan untuk bergerak, berbicara, menelan, dan akhirnya bernapas.
Arga tak ingin cita-cita anaknya buyar, mimpi-mimpi istrinya berantakan karena kondisinya yang secara perlahan kehilangan kekuatan dan akan merepotkan keluarganya. Dia meminta izin kepada istrinya, Hanggini (Nirina Zubir) dan anaknya, Nala (Anantya Kirana) untuk mengasingkan diri dan meminta anak dan istirnya melanjutkan hidup dan segenap mimpi-mimpinya tanpa kehadirannya.
Sebuah permintaan yang tak masuk akal bagi Hanggini dan Nala. Tetapi bagi ego dan kekeraskeplaan Arga itulah jalan terbaik. Lalu bagaimana film ini menyelesaikan konflik ini? Film ini tidak selalu mengikuti sudut pandang Arga yang ngotot dengan gagasananya. Film ini mengambil jalan tengah yang melegakan penonton.
Keinginan Arga muncul dari obsesi kesempurnaan. Bahwa lelaki harus selalu terlihat kuat di depan istri dan anak-anaknya, harus menjadi pelindung keluarga dalam pengertian tradisonal. Dan Vino berhasil memainkan seorang laki-laki yang gelisah tak ingin terlihat lemah. Demikian pula kiranya Nirina Zubir yang selalu tampil dalam takaran yang tidak lebih tidak kurang.
Film yang mengangkat soal penyakit langka masih jarang di Indonesia. Karena itu film ini layak disambut baik. Sayangnya film ini tak menyodorkan upaya yang harus dilakukan menghadapi penyakit ini. Penonton kurang diajak untuk memahami kehidupan dengan ALS, mereka hanya diajak menangisi akibat penyakit itu terhadap keluarga.Padahal drama keluarga bisa menjadi jalan bagus untuk mengenalkan penyakit yang jarang dibicarakan.
Akan tetapi, eksplorasi mengenai perubahan fungsi tubuh, ketergantungan pada orang lain, kebutuhan perawatan, dan perubahan relasi antara pasien dengan pengasuhnya bisa memberi dimensi yang lebih luas. Klise yang lain adalah Upaya Arga menutupi penyakit yang dideritanya di awal-awal yang jadi bahan bakar untuk konflik. Â
Skor: 6.5/10 Bintang
review oleh: John Tirayoh