Horor Menghibur Dengan Kisah yang Sederhana
Seorang gadis kecil bernama Gendis (Fara Shakila) yang menderita kebutaan (keterbatasan penglihatan) sejak lahir, dirasuki arwah penunggu Alas Roban. Penunggu alas roban berhasrat membawa arwah anak itu ke alam kelanggengan. Tentu saja hal itu ditolak oleh ibunya. Maka terjadilah perebutan antara penunggu alas roban dan ibu Gendis. Demikian premis film horor “Alas Roban” garapan Hadrah Daeng Ratu yang dirilis Februari 2026 yang lalu dan menjadi film terlaris keempa tahun ini (setidaknya sampai Juni ini) menurut data filmindonesia.or.id.
Sebuah premis yang sangat umum untuk film-film horor Indonesia, bahkan Hollywood. Perebutan kekuasaan antara setan dan manusia. Antara mahluk kasat mata dan mahluk tak kasat mata. Biasanya, jika tidak untuk menambah jumlah golongannya, motif si setan membawa manusia ke dunianya adalah sebagai tindakan pembalasan dendam. Entah karena si manusia telah merusak atau mengganggu hunian tempat si setan, atau semasa hidupnya si setan dianiaya oleh manusia.
Dalam film“Alas Roban”, kehendak setan untuk membawa Gendis ke alam kelanggengan bukan motif balas dendam bukan pula motif untuk menambah jumlah golongannya, melainkan seperti kata Dewi Raras, hantu penunggu Alas Roban yang diperankan oleh Imelda Therinne “Karena di tempat ini Gendis lebih kerasan,”. Sebuah motif yang kurang kuat dan terdengar mengada-ada.
Sekali pun begitu secara alur “Alas Roban” lumayan nyaman diikuti, bergerak dengan lancar. Artinya film ini memiliki cerita yang jelas. Bukan sekadar penampakan hantu yang menakut-nakuti penonton. Hadrah dengan baik mengenalkan Gendis dan Sita (Michelle Ziudith), ibunya. Sejak “Pemandi Jenazah” (2024), film-film horor garapan Hadrah memang mengalami kemajuan, baik secara cerita maupun teknis penggarapan dan akting para pemain.
Pengambilan gambar dan pergerakan kamera juga menawarkan kesegaran, tidak menjemukan, misalkan adegan saat Sita dikejar sekawanan hantu penghuni Alas Roban dan memohon kepada Dewi Raras untuk melepas Gendis dan menukar dirinya. Suasana suram dan seramnya terasa kuat. Adegan ketika bus tiba-tiba berhenti di tengah jalur Alas Roban, memunculkan ketegangan tidak hanya melalui suasana remang di tengah alas, tetapi ekspresi wajah si sopir saat memeriksa kondisi bus. Seperti teror mencekam.
“Alas Roban” berhasil menampilkan gambar-gambar yang memperkuat cerita, baik melalui suasana, lokasi maupun properti. Elemen-elemen ini membangun atmosfer yang ingin dihadirkan yaitu ketercekaman. Pertarungan antara manusia dan setan tidak ditampilkan penuh teriakan atau musik yang brisik dan menegangkan, melainkan suasana.
Bagi yang tidak tahu Alas Roban, ini adalah kawasan hutan yang dilalui jalan raya berkelok dan penuh tikungan yang berada di wilayah Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Banyak cerita-cerita seram dan ganjil serta mitos seputar Alas Roban berkembang di kalangan masyarakat, dari mulut ke mulut.
Secara sekilas film ini mengungkapkan sejarah Alas Roban. Seorang pemimpin di masa lalu membuka alas untuk membangun peradaban masyarakat, membuka jalan untuk menghubungkan wilayah pesisir Jawa. Pemerintah kolonial yang datang kemudian menjadikan kawasan ini tempat pembuangan mayat-mayat para pejuang yang melawan penjajahan.
Sayangnya, seperti kebanyakan film horor Indonesia, “Alas Roban” semata tontonan hiburan yang lumayan cocok untuk menunggu kemacetan reda sambil ngemil pop corn. Film ini tidak menyodorkan sesuatu yang cukup berharga untuk jadi bahan pembicaraan apalagi bahan renungan. Tidak ada semacam protes terhadap siuasi sosial politik, atau gugatan terhadap mitos-mitos dan sejarah masyarakat. Sebaliknya film ini sekadar merayakan mitos. Menonton film ini kita tak ubahnya sekadar masuk ke rumah hantu di pasar malam, merasategang dan terhibur. Namun kita akan melupakannya begitu keluar dari sana.
Skor: 6.5/10 Bintang
review oleh: Aris Kurniawan