Deus ex Machina a la Kamila Andini
“Ayah, bisakah kau berhenti melukis memar pada langit ibu?”
Kamila Andini kembali bercerita tentang perempuan. Namun kali ini, ia tidak sekadar membawa luka, melainkan juga amarah yang begitu hebat melalui film terbarunya, Empat Musim Pertiwi, wakil Indonesia menuju Oscars 2027.
Film ini berkisah tentang Pertiwi, seorang mantan narapidana yang kembali ke kampung halamannya dengan membawa trauma fisik dan luka masa lalu yang belum sepenuhnya pulih. Kepulangannya justru mempertemukannya kembali dengan ketimpangan gender dan relasi kuasa yang mengakar dalam masyarakat. Betapa menyakitkan ketika orang-orang yang pernah merenggut martabatnya justru tetap berdiri sebagai penguasa, seolah kekuasaan memberi mereka kekebalan dari pertanggungjawaban.
Amarah itu semakin menemukan bentuknya ketika Pertiwi bertemu Raras, sosok yang dalam segala keterbatasannya harus menghadapi kekerasan dan ketidakadilan serupa. Keduanya menjadi cerminan bagaimana tubuh perempuan kerap dijadikan medan pertarungan kekuasaan, sementara suara mereka terus dibungkam oleh tatanan sosial yang timpang.
Menariknya, Pertiwi bukan sekadar nama tokoh, tapi juga dapat dibaca sebagai personifikasi Ibu Pertiwi. Sebuah penggambaran tentang tanah air yang tubuhnya terus-menerus dilukai, sementara mereka yang memiliki kekuasaan justru menjadi bagian dari kekerasan itu sendiri. Dengan demikian, penderitaan Pertiwi tidak lagi semata-mata menjadi tragedi personal, melainkan juga sebuah alegori tentang bangsa yang gagal melindungi mereka yang paling rentan.
Melalui film ini, Kamila Andini kembali memberikan panggung kepada mereka yang selama ini dipinggirkan. Namun, yang menarik, film ini seolah sengaja memperlihatkan kebuntuan dalam menghadapi persoalan struktural tersebut. Ketika hukum, masyarakat, dan manusia gagal menghadirkan keadilan, kepada siapa lagi mereka harus berharap?
Di sinilah realisme magis menemukan maknanya. Ketika keadilan tak lagi dapat diharapkan dari tangan manusia, langit seolah turun tangan untuk menjawab segala luka dan amarah yang selama ini terpendam.
Pendekatan ini mengingatkan saya pada konsep Deus Ex Machina, istilah Latin yang berarti “Tuhan dari mesin”, yang berakar dari tradisi teater Yunani Kuno. Kala itu, sosok dewa dihadirkan ke atas panggung menggunakan alat mekanis untuk menyelesaikan konflik yang tak lagi mampu diurai oleh manusia. Dalam Empat Musim Pertiwi, pendekatan serupa terasa begitu relevan.
Ketika ketidakadilan telah mengakar sedemikian dalam dan seluruh jalan penyelesaian seolah tertutup, kekuatan di luar nalar manusia hadir sebagai jawaban. Namun, alih-alih terasa sebagai jalan pintas penceritaan, kehadirannya justru dapat dibaca sebagai sindiran yang getir tentang betapa rusaknya tatanan sosial ketika keadilan hanya mungkin terwujud melalui campur tangan kekuatan yang melampaui manusia.
Empat Musim Pertiwi sebuah film yang indah namun penuh amarah. Puitis dalam bertutur, tetapi begitu tajam dalam menggugat. Sebab ketika bumi tak lagi mampu melindungi perempuan, barangkali hanya langit yang bersedia mendengarkan amarahnya.
Skor: 9/10 Bintang
review oleh: Genta Perwira