Seven Deadly Sins in Local Wisdom
Film adalah produk kreatif. Sineas Hanung Bramantyo membuktikannya lewat Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah. Narasi tragedi 1965 diolah menjadi film horor dengan cocoklogi yang nakal dan bikin gemas.
Proyek horor berlatar 1965 bukan baru buat Hanung. Pada 2006 ia membuat Lentera Merah, balada aktivis mahasiswa yang terinspirasi dari buku Di Bawah Lentera Merah karya Soe Hok Gie. Bedanya, skala produksi Lobang Buaya jauh lebih besar.
Fokus cerita ada pada Letnan Soegeng (Baskara Mahendra) yang menyelidiki kasus pembunuhan aneh di Desa Lobang Buaya, setahun sebelum tragedi 1965. Enam korban tewas dengan luka sadis. Di tengah penyelidikan, Soegeng juga dibayangi sosok mistis yang menerornya dan sang istri (Carissa Perusset).
Hanung -menulis naskah bareng Haqi Achmad- menyulap epos sejarah dengan cara jahil. Korban tewasnya mengingatkan pada jargon “7 Setan Desa” yang pernah diucapkan Ketua CC PKI DN Aidit. Lalu mayat-mayat itu diberi kode tujuh dosa besar dalam Bahasa Jawa. Bikin deja vu pada Se7en-nya David Fincher ya?
Keisengan itu belum usai. Angka 309 pada judul identik pada dugaan momen 30 September, tanggal yang terkait dengan kejadian kelam di Indonesia. Nah, ternyata ada makna lain, yaitu QS 30 (Ar-Rum) ayat 9 yang mengajak manusia melihat sejarah dan mengambil hikmahnya. Pesan moralnya serius, namun kemasan Hanung terasa main-main.
Tentu ada saja detail yang kureng. Tanda pangkat misalnya. Soegeng yang seorang Letnan Kolonel, mestinya ada dua melati di bahu, ini tidak. Atau nama kesatuan di markas, tak jelas di level apa. Ah lupa, kan risetnya tak didukung negara.
Perihal pakem horor pun tak baru-baru amat. Kisah ilmu rogoh sukmo mengingatkan pada pertukaran tubuh dalam Get Out-nya Jordan Peele atau Sukma-nya Baim Wong. Dengan lincah Hanung mengolah dengan caranya sendiri.
Itulah sekilas tentang Lobang Buaya. Gagasan filmnya mungkin tidak baru-baru amat. Tetapi ada kreativitas cocoklogi yang segar dan menghibur. Dalam bahasa Jawanya itu disebut mindblowing.
Skor: 8/10 Bintang
review oleh: Bobby Batara