Bukan tentang Sampai ke Bulan, Tapi Tentang Kembali ke Bumi
Tahun 1970, di tengah perlombaan antariksa antara Amerika dan Uni Soviet dalam era perang dingin terus berlanjut. Kesuksesan AS ketika berhasil mendaratkan manusia di bulan, membuat NASA pede untuk kembali ke bulan. Tiga astronot Jim Lovell, Fred Haise, dan Jack Swigert berangkat dalam misi ke bulan bernama Apollo 13.
Mereka dijuluki “para penerus pahlawan luar angkasa”, melanjutkan jejak Neil Armstrong dan Buzz Aldrin. Namun tak lama setelah meninggalkan orbit Bumi, ledakan di salah satu tangki oksigen mengguncang pesawat mereka. Misi dari pendaratan ke bulan menjadi misi kembalu ke bumi dengan selamat.
Kata-kata Lovell yang kemudian jadi legenda, “Houston, we have a problem,” menandai awal dari perjuangan hidup dan mati di luar angkasa. Dengan oksigen menipis, suhu yang membeku, dan sistem daya hampir mati, ketiganya harus berjuang bersama tim NASA di Bumi untuk menemukan cara pulang. Dalam ruang yang sempit dan waktu yang menekan, mereka membuktikan bahwa kecerdasan, tekad, dan kerja sama bisa lebih kuat dari bencana apa pun di luar angkasa.
Apollo 13 bukan hanya sebagai kisah tentang misi gagal, tapi sebagai drama kemanusiaan di antara bintang-bintang. Film ini mengubah tragedi teknis menjadi kisah epik tentang harapan, kepemimpinan, dan keberanian manusia menghadapi ketidakpastian.
Tom Hanks menjiwai Jim Lovell dengan tenang namun tegas; wajah yang menahan panik, tapi tetap berpikir jernih di tengah kehancuran. Dukungan Ed Harris sebagai Gene Kranz sebagai pemimpin misi di Houston menghadirkan energi heroik yang membumi.
Setiap detik terasa tegang. Kamera Sutradara Ron Howard memperlakukan ruang hampa seperti medan perang yang sunyi, tempat manusia menantang keterbatasannya sendiri. Di balik teknologi dan jargon sains, Apollo 13 adalah menjadi kisah kemenangan terbesar manusia bukanlah mendarat di bulan, melainkan kembali ke rumah yaitu bumi.
Nilai: 8/10
Ulasan film oleh: Jonathan Ricky