Cahaya Itu Bernama Ibu
Sineas kita rajin mengangkat sosok ibu sebagai sentral cerita keluarga. Bahkan, kata “ibu” langsung dipasang di judul, mulai dari Dia Bukan Ibu, Esok Tanpa Ibu, hingga Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah. Namun Ody C. Harahap malah memakai judul Rumah Tanpa Cahaya. Pilihan unik, karena “cahaya” di sini adalah kiasan bagi sosok ibu itu sendiri.
Dikisahkan, sang ibu (Ira Wibowo) punya peran kuat di tengah suami (Donny Damara) dan dua putranya (Lavicky Nicholas dan Ridwan A. Ghany). Tak hanya memainkan peran domestik, ia juga menopang ekonomi sebagai koki lapak empal gentong milik keluarga. Tak pelak, kehadirannya membuat rumah terasa hidup dan hangat.
Keceriaan itu ditegaskan pula lewat bahasa gambar. Adegan ibu berangkat ke pasar saat subuh tampil dengan warna-warna cerah, penuh senyum dan tawa. Pun saat ia mengolah masakan, visual dari Padri Nadeak begitu menggugah, seolah aromanya tercium sampai ke bangku penonton.
Mendadak muncul konflik ketika ibu meninggal. Rumah yang semula teratur mendadak kocar-kacir. Simbol lampu meja yang nyaris rusak – hanya bisa nyala oleh sentuhan tangan ibu- sebuah metafora tentang “cahaya” padam itu. Emosi para anggota keluarga berubah dingin, sensitif, bahkan kadang maksa banget untuk tampak tegar. Sungguh kontras jika dibandingkan aura saat ibu masih ada.
Rumah Tanpa Cahaya tak menawarkan gagasan muluk. Isu kehilangan sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari: ditinggal ibu terasa seperti kiamat kecil. Terutama bagi keluarga yang bergantung padanya. Di film ini siapa yang akan memasak dan meneruskan bisnis keluarga? Sesederhana itu.
Premis macam begini memang khas ala Deddy Mizwar: persoalan sepele yang membesar karena karakter sulit berpikir jernih di tengah emosi memuncak. Ody sebagai sutradara tinggal ikut skenario hasil keroyokan dengan pendekatan melodrama yang menyentuh.
Di luar isu kehilangan, film ini juga menyodorkan bumbu komedi romantis, tema favorit Ody. Selain bicara tentang duka, cerita ini dengan jahilnya menyentuh perkara sederhana: perempuan butuh kepastian. Sebuah pertanyaan yang kerap dilontarkan ibu ketika masih ada.
Dan tanpa sadar kita mengamininya.
Nilai: 7.5/10 Bintang
review oleh: Bobby Batara